REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Kementerian Agama (Kemenag) meminta pesantren memperkuat pengawasan terhadap aktivitas santri menyusul kasus tiga santri yang mengalami luka bakar di sebuah pondok pesantren di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Kemenag menegaskan bahwa pesantren tetap memiliki tanggung jawab atas peristiwa yang terjadi di lingkungan pendidikan tersebut.
Direktur Pesantren Kementerian Agama (Kemenag), Basnang Said mengatakan insiden tersebut harus menjadi pelajaran bagi seluruh pesantren agar meningkatkan pengawasan terhadap berbagai aktivitas santri, terutama yang berpotensi membahayakan keselamatan.
"Mengingat kejadian ini di pesantren dan di dalamnya keterlibatan santri, maka pesantren tetap harus mengambil beban tanggung jawab ini. Utamanya ke depannya menguatkan pengawasan atas aktivitas yang dilakukan oleh santri," ujar Basnang saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (9/7/2026).
Hal ini disampaikan Basnang menanggapi kasus tiga santri yang mengalami luka bakar di sebuah pondok pesantren di Lombok Tengah. Kasus tersebut saat ini masih didalami aparat kepolisian, termasuk dugaan adanya unsur kelalaian dalam peristiwa tersebut.
Di sisi lain, pihak pengasuh pesantren Rosyidatushaulatiyyah Al-Ibrahimi Nahdlatul Wathon (NW) membantah narasi yang beredar di media sosial yang menyebut para korban disiram bensin sebelum terbakar.
Ketua Yayasan Rosyidatushaulatiyyah Al-Ibrahimi NW, TGH Ahmad Muzakki Rahmatullah mengatakan, peristiwa tersebut merupakan kecelakaan yang terjadi saat sejumlah santri bereksperimen menggunakan bensin dan api di dalam sebuah ruangan.
"Tidak ada. Tidak ada penyiraman. Tidak ada penyiraman," ujar Muzakki dikutip dari video klarifikasinya yang tersebar di media sosial, Kamis (9/7/2026).
Muzakki menjelaskan, salah seorang santri membeli dua botol bensin dengan alasan hendak meluruskan kayu berbentuk bengkok menggunakan panas api untuk membuat ketapel. Lima santri kemudian masuk ke sebuah ruangan dan mengunci pintu agar aktivitas mereka tidak diketahui.
Di dalam ruangan itu, sebagian bensin dituangkan ke atas selembar mika lalu dibakar. Saat api menyala, botol bensin yang terbuka diduga tersenggol sehingga bensin tumpah dan api menyambar ke berbagai arah.
Menurut dia, percikan api kemudian mengenai area yang terdapat kasur bekas sehingga api cepat membesar. Dua santri berhasil keluar dengan melompat, sementara tiga lainnya sempat tertahan di dalam ruangan karena takut melewati kobaran api yang berada di dekat pintu.
Ia juga membantah tudingan bahwa pihak pesantren lepas tangan terhadap para korban. Menurutnya, sejak awal pihak pesantren telah memberikan pendampingan kepada para santri yang menjadi korban.
"Kami tidak lepas tangan. Kami tidak lepas tangan," ucapnya
Sementara itu, kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut, termasuk mendalami kemungkinan adanya unsur kelalaian dalam insiden yang menyebabkan tiga santri mengalami luka bakar.

13 hours ago
15














































