
Oleh : Anang Fahmi, Pusdiklat BAZNAS RI, Dosen UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto
REPUBLIKA.CO.ID, Setiap Ramadhan, lebih dari 1,8 miliar muslim di dunia melakukan eksperimen biologis terbesar: berpuasa selama 13-14 jam setiap hari. Tanpa mereka sadari, tubuh mereka sedang menjalani proses yang dalam ilmu fisika disebut "sistem reset"—seperti me-restart komputer yang sudah terlalu lama menyala. Dan sains modern kini membuktikan: ada hukum-hukum fisika yang bekerja di balik ibadah ini.
Autophagy: Program Recycle Alami Tubuh
Bayangkan tubuh Anda sebagai sebuah pabrik besar yang beroperasi 24/7. Mesin-mesin terus bekerja, limbah menumpuk, bagian-bagian usang tidak pernah diganti. Inilah yang terjadi ketika kita makan terus-menerus tanpa jeda. Sistem pencernaan bekerja tanpa henti—dari sarapan, makan siang, camilan, makan malam, hingga camilan malam.
Saat puasa, pabrik tubuh akhirnya punya waktu untuk maintenance. Ini bukan cuma istilah—ini proses ilmiah bernama autophagy, penemuan yang meraih Nobel Prize di tahun 2016. Autophagy adalah proses di mana sel-sel tubuh membersihkan diri dari zat-zat berbahaya dan sel-sel yang sudah rusak atau mati.
Prosesnya mirip dengan daur ulang: sel memakan komponen-komponennya sendiri yang sudah tidak terpakai, lalu mengubahnya menjadi energi atau bahan baku baru. Hasilnya? Sel-sel yang lebih segar, sistem kekebalan yang lebih kuat, dan perlindungan terhadap penyakit degeneratif seperti kanker dan Alzheimer.
Dalam bahasa fisika, ini adalah "efisiensi energi maksimum"—tidak ada yang terbuang, semuanya didaur ulang. Tubuh beroperasi seperti reaktor nuklir yang clean dan efisien, bukan pembangkit batu bara yang menghasilkan limbah berlebihan.
Defisit Kalori: Hukum Kekekalan Energi dalam Aksi
Hukum pertama termodinamika sangat sederhana: energi tidak bisa diciptakan atau dihancurkan, hanya berubah bentuk. Terapkan pada tubuh: jika energi masuk (makanan) lebih sedikit dari energi keluar (aktivitas), tubuh akan membakar cadangan energi yang tersimpan—lemak.
Saat puasa Ramadhan, kita hanya makan dua kali: sahur dan berbuka. Drastis berkurang dari pola makan normal 3-5 kali sehari. Secara otomatis tercipta apa yang disebut "defisit kalori"—kondisi di mana tubuh terpaksa mengambil energi dari simpanan lemak.
Penelitian menunjukkan bahwa puasa membantu menurunkan berat badan, menurunkan kolesterol, tekanan darah, dan kadar gula darah. Bagi penderita diabetes dan obesitas, puasa bahkan menjadi terapi alami yang sangat efektif—asalkan dilakukan dengan pengawasan medis yang tepat.
Yang menarik, puasa tidak hanya mengurangi kalori, tapi juga mengubah cara tubuh memproses energi. Ketika kadar gula darah turun setelah beberapa jam puasa, tubuh beralih ke "mode ketosis"—membakar lemak sebagai sumber energi utama. Ini seperti mobil hybrid yang bisa beralih dari bensin ke listrik saat bensin habis.
Hormon dan Homeostasis: Mencapai Keseimbangan Sempurna
Tubuh manusia seperti orkestra besar dengan miliaran instrumen yang harus bermain selaras. Konduktornya adalah sistem hormon. Saat kita makan berlebihan atau terus-menerus, orkestra ini jadi kacau—insulin melompat tinggi, kortisol (hormon stres) naik, leptin (hormon kenyang) terganggu.
Puasa mengembalikan harmoni orkestra ini. Kadar hormon katekolamin dalam darah terkontrol, mengurangi risiko serangan jantung. Insulin menjadi lebih sensitif, membuat tubuh lebih efektif memproses gula. Hormon pertumbuhan (HGH) justru meningkat saat puasa, membantu pembakaran lemak dan pembentukan otot.
Dalam fisika, ini disebut homeostasis—kecenderungan sistem untuk mencari keseimbangan optimal. Seperti termometer yang mengatur suhu ruangan, tubuh saat puasa mengatur ulang semua parameter biologisnya ke setting pabrik—ke fitrah yang seharusnya.
Reset Mental: Entropi Pikiran yang Menurun
Selama ini kita bicara tentang fisik. Tapi yang lebih menakjubkan adalah dampak puasa pada kesehatan mental. Dalam termodinamika, ada konsep "entropi"—ukuran kekacauan sistem. Pikiran kita sehari-hari memiliki entropi tinggi: stres kerja, media sosial, overthinking, kecemasan berlebihan.
Puasa menurunkan entropi mental. Penelitian menunjukkan puasa meningkatkan disiplin diri, fokus spiritual, dan perasaan kesejahteraan. Hakikat puasa adalah menahan hawa nafsu—musuh terbesar manusia modern yang terbiasa instant gratification.
Ketika Anda berhasil menahan lapar dan haus selama 13 jam, otak Anda belajar satu pelajaran penting: Anda lebih kuat dari keinginan-keinginan sesaat Anda. Ini adalah latihan mental yang membangun resiliensi—daya tahan psikologis terhadap tekanan hidup.
Dalam bahasa neurosains, puasa meningkatkan produksi BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor)—protein yang berfungsi seperti pupuk bagi otak. BDNF mendorong pertumbuhan sel-sel otak baru, meningkatkan koneksi antar neuron, dan melindungi otak dari penyakit degeneratif.
Quantum Leap: Dari Pola Destruktif ke Pola Konstruktif
Dalam fisika kuantum, elektron bisa "melompat" dari satu tingkat energi ke tingkat lain secara tiba-tiba—tanpa melalui tahap antara. Ini disebut "quantum leap".
Puasa memberikan kesempatan quantum leap bagi perilaku manusia. Penelitian menunjukkan puasa memiliki potensi membantu individu keluar dari perilaku destruktif (merokok, kecanduan, pola makan buruk) menuju fitrah manusia yang sejatinya.
Ketika Anda bisa mengendalikan dorongan paling primitif—makan dan minum—selama sebulan penuh, perilaku-perilaku negatif lain jadi lebih mudah dikontrol. Ini adalah latihan self-control yang paling fundamental. Seperti melatih otot—semakin sering dilatih, semakin kuat.
Sistem yang Butuh Istirahat
Puasa pada dasarnya adalah memberi kesempatan sistem pencernaan untuk istirahat. Bayangkan jika Anda tidak pernah mematikan laptop—terus menyala 24/7, aplikasi terus berjalan, file terus diproses. Cepat atau lambat, sistem akan overheat, melambat, atau bahkan crash.
Tubuh manusia juga demikian. Ketika sistem pencernaan di perut terus aktif mencerna makanan tanpa henti, berbagai masalah kesehatan muncul: asam lambung, maag, obesitas, diabetes. Puasa memberikan waktu shutdown yang membuat sistem bisa melakukan perbaikan dan pemeliharaan.
Namun, penting untuk berpuasa dengan bijak. Hindari dehidrasi dengan minum cukup saat sahur dan berbuka. Jangan "balas dendam" saat berbuka dengan makan berlebihan—ini justru meniadakan manfaat puasa. Bagi yang memiliki kondisi kesehatan tertentu seperti diabetes parah, penyakit jantung koroner, atau batu ginjal, konsultasi dengan dokter sebelum berpuasa adalah wajib.
Ketika Ibadah dan Sains Bertemu
Yang menakjubkan dari puasa adalah ini: 1.400 tahun lalu, tanpa laboratorium atau mikroskop, Islam sudah mewajibkan praktik yang kini terbukti secara ilmiah sangat bermanfaat bagi kesehatan. Autophagy baru ditemukan tahun 2016, tapi umat Islam sudah melakukannya sejak abad ke-7.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah bukti bahwa ibadah dalam Islam dirancang dengan sempurna—bukan hanya untuk pahala di akhirat, tapi juga kesehatan di dunia. Puasa adalah investasi ganda: tabungan akhirat sekaligus asuransi kesehatan.
Dari perspektif sains murni, puasa Ramadhan adalah intervensi kesehatan paling efisien: tanpa biaya, tanpa obat, tanpa efek samping (jika dilakukan dengan benar), namun dengan manfaat yang luar biasa—dari penurunan berat badan, kontrol diabetes, hingga peningkatan kesehatan mental.
Jadi tahun ini, saat Anda berpuasa, ingatlah: tubuh Anda sedang menjalani proses reset biologis yang luar biasa. Setiap jam lapar adalah investasi kesehatan. Setiap godaan yang ditahan adalah latihan mental yang membuat Anda lebih kuat. Dan setiap hari puasa adalah kombinasi sempurna antara ibadah spiritual dan terapi kesehatan holistik yang diakui sains modern.
Puasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus. Ini adalah sistem upgrade komprehensif—fisik, mental, dan spiritual—yang dirancang sempurna oleh Sang Pencipta, dan kini terbukti oleh sains modern.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

12 hours ago
8















































