REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Kelompok Hamas dilaporkan tengah dalam proses memilih pemimpin baru. Terdapat dua calon utama yang disebut berpeluang mengepalai biro politik Hamas, yakni Khaled Meshaal dan Khalil al-Hayya.
Seorang pejabat senior Hamas mengungkapkan, baru-baru ini kelompok tersebut telah menyelesaikan pembentukan dewan syura, sebuah badan konsultatif yang sebagian besar terdiri dari ulama, serta biro politik baru.
"Gerakan (Hamas) telah menyelesaikan pemilihan internalnya di tiga wilayah dan telah mencapai tahap akhir pemilihan kepala biro politik," ujar pejabat senior Hamas tersebut, dikutip laman Al Arabiya, Ahad (22/2/2026).
Dia menambahkan, terdapat dua tokoh utama yang kini mengemuka serta berpeluang menjadi kepala biro politik Hamas, yakni Khaled Meshaal dan Khalil al-Hayya. Sumber Hamas lainnya mengkonfirmasi perkembangan tersebut.
Perihal dewan syura Hamas, para anggota badan tersebut dipilih setiap empat tahun sekali oleh perwakilan dari tiga cabang Hamas: Jalur Gaza, Tepi Barat, dan kepemimpinan eksternal Hamas. Anggota Hamas yang tengah ditahan di penjara Israel juga berhak memilih.
Dewan syura akan memilih biro politik. Selanjutnya biro politik akan menentukan kepala gerakan Hamas. Seorang sumber Hamas mengungkapkan, nantinya pemimpin baru hanya akan menjabat selama setahun masa transisi.
Menurut dia, ribuan anggota Hamas memberikan suara untuk memilih dewan dan biro politik, tanpa merinci bagaimana pemungutan suara dilakukan. “Tujuan utama dari proses ini adalah untuk memperbarui legitimasi internal dan mengisi kekosongan kepemimpinan,” ujarnya.
Dua calon yang disebut berpeluang memimpin Hamas, yakni Khaled Meshaal dan Khalil al-Hayya, keduanya sama-sama memiliki pengalaman matang.
Al-Hayya, yang kini berusia 65 tahun, adalah warga asli Gaza. Dia merupakan kepala negosiator Hamas dalam perundingan gencatan senjata. Menurut LSM yang berbasis di AS, Counter Extremism Project (CEP), Al-Hayya telah memegang peran senior setidaknya sejak tahun 2006.
Sementara Meshaal berasal dari Tepi Barat. Pria kelahiran 1956 itu telah memimpin biro politik Hamas dari 2004 hingga 2017. Namun Meshaal tidak pernah tinggal di Gaza.
Meshaal bergabung dengan Hamas di Kuwait dan kemudian tinggal di Yordania, Suriah, dan Qatar. Menurut CEP, Meshaal mengawasi evolusi Hamas menjadi hibrida politik-militer. Saat ini Meshaal memimpin kantor diaspora Hamas.
Pemimpin Hamas mendatang akan memikul tanggung jawab besar. Saat ini proses perdamaian Gaza yang digagas AS telah menyuarakan soal demiliterisasi Gaza. Israel, sebagai salah satu negara anggota Dewan Perdamaian bentukan Presiden AS Donald Trump, menolak proses rekonstruksi Gaza sebelum Hamas dilucuti.
Hamas telah menegaskan tidak akan menyerahkan persenjataan mereka selama penjajahan Israel atas wilayah Palestina, khususnya Gaza, masih berlangsung. Namun Hamas pun sempat menyampaikan siap menyerahkan senjata mereka kepada otoritas Palestina di Gaza dengan syarat-syarat tertentu.
Selama dua tahun perang di Gaza (Oktober 2023-Oktober 2025), Israel membunuh dua pemimpin Hamas. Pertama, yakni Ismail Haniyeh, dibunuh Israel di Teheran, Iran, pada Juli 2024.
Kepemimpinan Hamas kemudian diteruskan oleh Yahya Sinwar, kepala Hamas di Kota Gaza. Sinwar turut dibunuh pasukan Israel di kota Rafah, Gaza selatan, tiga bulan setelah wafatnya Haniyeh.

2 hours ago
3















































