REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Krakatau Steel (Persero) Tbk optimistis industri baja nasional semakin mendekati kemandirian di tengah ketidakpastian global. Keyakinan itu ditopang percepatan hilirisasi, penguatan teknologi, dan pemanfaatan bahan baku domestik.
Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan mengatakan, momentum tersebut diperkuat dengan dimulainya Proyek Hilirisasi Nasional Fase 2 sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan industri nasional. Proyek itu menjadi bagian dari sembilan proyek strategis nasional yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Akbar, Krakatau Steel Group mengambil peran utama melalui pembangunan fasilitas produksi slab baja karbon berkapasitas besar di Cilegon. Perseroan juga mengembangkan fasilitas slab stainless steel di Morowali melalui sinergi dengan mitra strategis di bawah koordinasi Danantara.
“Kolaborasi bersama mitra strategis ini melalui penguatan teknologi mutakhir dan optimalisasi sumber daya lokal akan memperkuat ketahanan industri baja nasional,” kata Akbar dalam siaran pers, Jumat (1/5/2026).
Akbar menegaskan, pemanfaatan bahan baku domestik menjadi fondasi penting dalam membangun industri baja yang lebih kompetitif. Menurut dia, ketergantungan terhadap pasokan luar negeri harus terus ditekan.
“Pemanfaatan bahan baku domestik adalah kunci utama membangun industri yang mandiri, efisien, dan berkelanjutan,” ujar Akbar.
Ia menilai hilirisasi juga akan memperkuat rantai pasok nasional agar lebih tangguh menghadapi tekanan global, termasuk potensi gangguan logistik internasional seperti eskalasi konflik di kawasan Selat Hormuz.
Optimalisasi proyek dilakukan di kawasan industri terintegrasi Krakatau Steel di Cilegon dengan dukungan infrastruktur logistik dan energi. Integrasi ini diharapkan meningkatkan efisiensi produksi dan distribusi sekaligus mendongkrak daya saing baja nasional.
Lewat proyek ini, Krakatau Steel juga menargetkan penurunan impor baja secara bertahap melalui optimalisasi aset perusahaan. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem industri baja terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Krakatau Steel menargetkan penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok global sekaligus mendukung pembangunan industri berkelanjutan. Dengan langkah tersebut, kemandirian industri baja nasional diyakini semakin kokoh serta mampu memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional,” ujar Akbar.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto meresmikan peletakan batu pertama Proyek Hilirisasi Nasional Fase 2 di kawasan Kilang Pertamina RU IV Cilacap pada 29 April. Proyek ini mencakup pembangunan fasilitas slab baja karbon berkapasitas 1,5 juta ton per tahun dengan investasi 200 juta dolar AS serta fasilitas slab stainless steel berkapasitas 1,2 juta ton per tahun di Morowali.
“Hilirisasi adalah jalan utama menuju kemakmuran rakyat. Juga inovasi teknologi, efisiensi, serta kolaborasi lintas sektor demi kemajuan ekonomi dan kesejahteraan nasional,” ujar Prabowo.

2 hours ago
4
















































