Kronologi Laka Maut Bus Cahaya Trans, Sopir Kaget di Simpang Susun Krapyak

4 weeks ago 28

Rabu 24 Dec 2025 16:15 WIB

Gilang baru sekitar dua bulan bekerja sebagai sopir bus Cahaya Trans.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol M.Syahduddi memberikan keterangan kepada awak media soal penetapan tersangka Gilang (22 tahun), sopir bus Cahaya Trans yang terguling di simpang susun exit tol Krapyak pada Senin (22/12/2025) dini hari. Insiden tersebut memakan 16 korban jiwa.

Foto: Kamran Dikarma/Republika

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol M.Syahduddi memberikan keterangan kepada awak media soal penetapan tersangka Gilang (22 tahun), sopir bus Cahaya Trans yang terguling di simpang susun exit tol Krapyak pada Senin (22/12/2025) dini hari. Insiden tersebut memakan 16 korban jiwa.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Kapolrestabes Semarang Kombes Pol M.Syahduddi mengungkap kronologi lengkap insiden tergulingnya bus Cahaya Trans di simpang susun exit tol Krapyak pada Senin (22/12/2025) dini hari lalu. Dia mengatakan, bus tersebut memang melaju dengan kecepatan cukup tinggi. 

Syahduddi menerangkan, bus Cahaya Trans yang mengalami kecelakaan di exit tol Krapyak dikemudikan oleh Gilang (22 tahun). Dia adalah warga Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Gilang baru sekitar dua bulan bekerja sebagai sopir bus Cahaya Trans.  "Yang bersangkutan adalah sopir cadangan," ungkap  Syahduddi ketika memberikan keterangan pers di Pos Lantas Simpang Lima, Selasa (23/12/2025) malam. 

Bus Cahaya Trans yang kecelakaan di exit tol Krapyak bertolak dari Bogor menuju Yogyakarta. Bus tersebut mengangkut 34 orang, termasuk sopir dan kru. Syahduddi mengatakan, Gilang mulai mengemudi dari Subang, Jawa Barat. Menurut Syahduddi, selama bekerja, Gilang baru dua kali mengendarai bus Cahaya Trans.

Sebelum terguling, bus terlebih dulu melakukan pembayaran di Gerbang Tol Kalikangkung. Dari sana, bus kemudian melaju menuju simpang susun Krapyak. "Pengemudi mengakui mengemudikan kendaraan dalam kecepatan yang cukup tinggi. Namun dia tidak bisa memastikan berapa kecepatannya," ucap Syahduddi. 

Karena medan simpang susun Krapyak menurun dan menikung ke kiri, Gilang kaget. "Sopir melakukan manuver dengan membanting setir ke kiri, namun posisi kendaraan sudah terlanjur berada di posisi kanan, sehingga terjadi out of control dan menyebabkan kendaraan bus terbalik dan membentur dinding beton yang ada di sisi kanan jalan. Inilah yang menjadi penyebab banyaknya korban meninggal," kata Syahduddi. 

Berdasarkan keterangan yang disampaikannya kepada kepolisian, Gilang mengaku tidak sempat mengerem. "Dia berupaya mengalihkan persneling dari gigi 6 ke gigi 5 namun tidak keburu. Sehingga yang bersangkutan mengambil manuver, membanding setir ke arah kiri, namun kendaraan sudah terlanjur oleng ke sisi sebelah kanan," ujar Syahduddi. 

Read Entire Article
Politics | | | |