loading...
Letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883 di Selat Sunda menyemburkan material vulkanik dan longsoran ke laut hingga membuat dunia gelap 2,5 hari dan tsunami setinggi 40 meter. Foto/Wikipedia
LETUSAN dahsyat Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883 di Selat Sunda yang memisahkan Pulau Jawa dan Sumatera menyemburkan material vulkanik yang membumbung tinggi ke angkasa. Letusan induk Gunung Anak Krakatau ini minimbulkan gelombang tsunami setinggi 40 meter yang menerjang pesisir Jawa, Sumatera, Hawaii, Semenanjung Arab hingga pantai barat Amerika Tengah.

Foto/Ist
Kala itu bencana akibat erupsi Gunung Krakatau yang merupakan induk Gunung Anak Krakatau meluluhlantakan permukiman warga di sepanjang pantai Jawa Barat dan Lampung. Gelombang tsunami menghancurkan 295 kampung atau desa di kawasan pantai. Mulai dari Merak di Kota Cilegon hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan (Ujung Kulon) serta Sumatera Bagian selatan.
Baca juga: Letusan Gunung Anak Krakatau Mulai Meluruh, Frekuensi Diprediksi Menurun
Tercatat jumlah korban yang tewas mencapai 36.417 jiwa. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke pantai Hawai, pantai barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7.000 kilometer (Km). Di Ujung Kulon, air bah masuk sampai 15 km ke arah barat. Bahkan, saking dahsyatnya letusan ini sebaran abu vulkaniknya konon mencapai langit ibu kota Inggris, London.
Letusan memicu longsoran vulkanik yang meluncur deras ke laut hingga memicu gelombang tsunami setinggi hingga 40 meter. Gelombang tsunami menghancurkan wilayah yang berada di sepanjang pantai. Erupsi Gunung Krakatau pada 1883 memuntahkan jutaan kubik material vulkanik.
Abu vulkanik yang disemburkan menyebar ke seluruh dunia. Bahkan konon ada sekitar 800.000 kilometer kubik langit dunia diselimuti muntahan Krakatau dan membuat langit menjadi gelap selama dua setengah hari.
Baca juga: 2 Klaster Abu Vulkanik Letusan Gunung Anak Krakatau Menyebar ke Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu
Sebaran abu vulkanik yang menutupi atmosfer dan menghalangi sinar matahari membuat dunia sempat mencatat penurunan suhu global. Akibatnya, suhu bumi turun hingga 1,2 derajat Celsius dan merubah iklim secara drastis pada saat itu, di mana musim dingin lebih panjang dari pada musim panas. Letusan Krakatau juga menyebabkan perubahan suhu udara dan iklim dunia.


















































