Literasi Keuangan Syariah Turun, Ekonom Dorong Pendekatan Top-Down

3 hours ago 7

Penurunan tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah dalam hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mendapat sorotan. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penurunan tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah dalam hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mendapat sorotan. Ekonom sekaligus Direktur Next Policy Yusuf Wibisono berpendapat, pendekatan bottom-up semestinya beralih ke pendekatan top-down dalam pengembangan keuangan syariah di Indonesia.

“Menurut saya, turunnya tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah mengindikasikan bahwa pendekatan bottom-up yang selama ini berperan dominan dalam pengembangan keuangan syariah telah mencapai titik jenuh,” kata Yusuf kepada Republika, Kamis (13/8/2026) lalu.

Ia menjelaskan, sebagian masyarakat yang telah mengenal dan menggunakan produk keuangan syariah kini meninggalkan keuangan syariah. Hal tersebut kemungkinan besar terjadi karena ketidakpuasan terhadap produk dan layanan yang kurang lengkap dan tidak mampu memenuhi kebutuhan, jaringan yang lebih terbatas, atau pengalaman yang kurang menyenangkan.

“Hal ini harus direspons dengan serius dan cepat, yaitu dengan mulai lebih banyak mendorong pendekatan top-down dalam pengembangan keuangan syariah. Tanpa dukungan kebijakan top-down, keuangan syariah sulit tumbuh lebih cepat lagi. Bahkan, ke depan pertumbuhannya berpotensi meredup yang terlihat dari indikasi turunnya literasi dan inklusi keuangan syariah,” terangnya.

Industri perbankan syariah, misalnya, setelah lebih dari tiga dekade sektor tersebut diperkenalkan di Indonesia, market share atau pangsa pasar perbankan syariah hingga kini baru di kisaran 7,5 persen. Yusuf menyebut, banyak pihak menyatakan masih rendahnya penetrasi pasar perbankan syariah terutama disebabkan oleh faktor demand, yaitu rendahnya literasi masyarakat, serta faktor supply, seperti masih terbatasnya diversifikasi produk, rendahnya kualitas layanan, dan lemahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) perbankan syariah.

“Meski hal tersebut bisa jadi benar, namun menurut saya, faktor utama hal ini karena pengembangan perbankan syariah selama ini masih sangat didominasi oleh pendekatan bottom-up dan masih minim dukungan pemerintah. Ke depan, menurut saya, jika kita ingin serius mengembangkan perbankan syariah, maka agenda terpentingnya adalah meningkatkan market share perbankan syariah. Untuk itu, pendekatan top-down perlu semakin diperbesar porsinya,” jelasnya.

Read Entire Article
Politics | | | |