Tragedi Mahasiswa dan Peringatan bagi Komunikasi Keluarga di Era Digital

2 hours ago 8

Image Dr. Ernita Arif Bahri Chaniago

Pendidikan | 2026-08-13 14:32:38

Oleh: Dr. Ernita Arif, MSi

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

Tragedi yang pernah menimpa seorang mahasiswi di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga menghadirkan refleksi penting tentang persoalan kekerasan yang masih menjadi tantangan di lingkungan sosial dan pendidikan. Meski peristiwanya telah berlalu, isu yang diangkat tetap relevan karena kekerasan tidak pernah lahir dari satu penyebab tunggal. Ia merupakan hasil dari pertemuan berbagai faktor, mulai dari kondisi individu, lingkungan sosial, pola relasi yang tidak sehat, hingga lemahnya sistem perlindungan dan pencegahan. Karena itu, setiap tragedi semestinya tidak berhenti sebagai catatan peristiwa, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran kolektif, membangun ruang yang lebih aman, serta mendorong upaya pencegahan yang berkelanjutan.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mencari pihak yang salah. Tragedi tidak pernah adil jika dibebankan hanya pada satu sisi. Namun setiap peristiwa sosial semestinya mengajak kita bercermin sekaligus memperkuat kembali sistem dukungan terdekat manusia, yaitu keluarga.

Mahasiswa kerap dianggap telah sepenuhnya dewasa. Mereka tinggal jauh dari rumah, mengatur kehidupan akademik sendiri, dan membangun jejaring sosial yang lebih luas. Namun fase dewasa awal adalah masa transisi yang sarat tekanan. Pencarian jati diri, tuntutan akademik, relasi pertemanan, hingga persoalan pribadi dapat menjadi beban yang tidak selalu mudah diceritakan.

Kemandirian memang tumbuh, tetapi kebutuhan akan rasa aman emosional tidak pernah benar-benar hilang. Pada titik inilah komunikasi keluarga menjadi fondasi penting. Dalam teori Family Communication Patterns yang diperkenalkan oleh Mary Anne Fitzpatrick, kualitas relasi keluarga dipengaruhi oleh dua orientasi utama: orientasi percakapan dan orientasi konformitas. Orientasi percakapan membuka ruang dialog. Anak dapat menyampaikan pendapat, berbagi pengalaman, bahkan berbeda pandangan tanpa takut dihakimi. Percakapan berlangsung dua arah dan dilandasi empati.

Sebaliknya, orientasi konformitas menekankan keseragaman dan kepatuhan pada nilai keluarga. Nilai ini penting untuk menjaga arah dan identitas. Namun jika terlalu dominan tanpa diimbangi ruang dialog, anak bisa memilih diam. Bukan karena tidak memiliki masalah, melainkan karena tidak merasa cukup aman untuk membicarakannya. Diam sering kali menjadi bahasa yang tidak terdengar.

Dalam konteks tragedi seperti yang terjadi di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, kita tentu tidak dapat menyederhanakan persoalan pada satu faktor, apalagi menyimpulkannya sebagai akibat pola komunikasi keluarga semata. Realitas jauh lebih kompleks. Akan tetapi secara teoritis, komunikasi keluarga yang terbuka dapat menjadi faktor protektif. Mahasiswa yang terbiasa berdialog cenderung lebih mudah mencari bantuan ketika menghadapi tekanan atau konflik. Orang tua pun memiliki kesempatan lebih besar untuk membaca perubahan dan memberikan dukungan lebih awal.

Era digital menghadirkan paradoks. Orang tua dan anak dapat saling berkabar setiap hari melalui pesan singkat atau panggilan video. Namun tersambung secara teknis tidak selalu berarti terhubung secara emosional. Pertanyaan rutin seperti “sudah makan?” atau “bagaimana kuliah?” tetap penting, tetapi yang lebih dibutuhkan adalah percakapan yang memberi rasa aman dan menyentuh perasaan terdalam.

Dalam banyak kasus, tanda-tanda tekanan emosional sebenarnya muncul dalam bentuk yang sangat halus. Perubahan nada bicara, jarangnya berbagi cerita, atau respons yang semakin singkat bisa menjadi sinyal kecil yang sering terlewatkan. Di sinilah kepekaan komunikasi keluarga menjadi penting. Orang tua tidak hanya bertanya, tetapi juga membaca makna di balik jawaban yang diberikan. Mendengar secara empatik sering kali lebih bermakna daripada memberi nasihat yang panjang.

Teori kelekatan dari John Bowlby menjelaskan bahwa rasa aman emosional yang dibangun sejak dini menjadi fondasi dalam menghadapi tekanan hidup. Individu yang merasa memiliki figur suportif cenderung lebih mampu mencari pertolongan saat menghadapi kesulitan. Kelekatan yang hangat bukan berarti ketergantungan, melainkan keyakinan bahwa selalu ada tempat pulang secara emosional.

Di sisi lain, kampus memikul tanggung jawab moral dan institusional. Tidak ada ruang bagi kekerasan dalam bentuk apa pun, terlebih di lingkungan pendidikan tinggi yang semestinya menjunjung akal sehat dan kemanusiaan. Kampus bukan sekadar ruang transfer ilmu, tetapi ruang pembentukan karakter dan kedewasaan sosial. Sistem dukungan psikologis, layanan konseling yang mudah diakses, serta budaya dialog yang sehat bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Keluarga dan kampus bukan dua dunia yang terpisah. Keduanya adalah sistem yang saling menguatkan. Ketika komunikasi keluarga hangat dan lingkungan pendidikan responsif, mahasiswa memiliki jejaring dukungan yang lebih kokoh.

Selain itu, masyarakat luas juga memiliki peran dalam membangun lingkungan sosial yang lebih empatik. Dalam era media sosial yang serba cepat, tragedi sering kali berubah menjadi konsumsi informasi yang berlalu begitu saja. Padahal di balik setiap peristiwa terdapat manusia dengan cerita hidup, harapan, dan relasi yang kompleks. Empati sosial perlu terus dirawat agar setiap tragedi tidak hanya menjadi berita, tetapi juga momentum untuk memperkuat kepedulian bersama.

Peristiwa di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau hendaknya menjadi peringatan yang membangunkan, bukan sekadar kabar yang lewat dalam arus informasi. Banyak tragedi tidak hadir secara tiba-tiba. Ia sering didahului oleh kesunyian kecil yang tidak menemukan ruang untuk diucapkan. Ketika percakapan berhenti, jarak emosional diam-diam melebar.

Orang tua hadir bukan hanya sebagai pemberi arahan, tetapi sebagai pendengar yang sungguh-sungguh membuka hati. Saatnya kampus menegaskan komitmen bahwa kekerasan dalam bentuk apa pun tidak dapat ditoleransi. Mahasiswa tetaplah anak yang membutuhkan ruang aman untuk bercerita. Jika rumah menjadi tempat yang hangat dan kampus menjadi ruang yang peduli, kita sedang membangun benteng yang lebih kokoh daripada sekadar aturan dan pengawasan.

Masa depan generasi muda tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektualnya, tetapi oleh keberanian mereka untuk jujur tentang luka dan kegelisahan. Dan keberanian itu tumbuh ketika mereka merasa didengar, dipercaya, dan dicintai tanpa syarat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |