Mahalnya Harga Stabilitas

4 hours ago 6

loading...

Direktur Eksekutif Sigmaphi Indonesia/Analis Ekonomi Megawati Institute. Foto/Dok. SindoNews

Muhammad Islam
Direktur Eksekutif Sigmaphi Indonesia
Analis Ekonomi Megawati Institute

"Only when the tide goes out do you discover who's been swimming naked."
— Warren Buffett

SETIAP kali gejolak ekonomi muncul, pertanyaan yang hampir selalu mengemuka adalah: apakah Indonesia sedang menuju krisis? Rupiah melemah, pasar saham terkoreksi, suku bunga naik, dan kekhawatiran pun bermunculan. Pertanyaan tersebut tentu tidak salah. Namun, ada pertanyaan lain yang jauh lebih penting: mengapa biaya yang harus dibayar untuk menjaga stabilitas ekonomi terasa semakin mahal?

Dunia memang sedang berada dalam situasi yang tidak mudah. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, suku bunga global yang masih tinggi, dan fragmentasi perdagangan internasional telah menciptakan ketidakpastian yang besar. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, kondisi tersebut dengan cepat diterjemahkan menjadi tekanan terhadap nilai tukar, arus modal keluar, dan biaya pendanaan yang meningkat.

Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia memperlihatkan bahwa rupiah sempat menyentuh level sekitar Rp17.883 per dolar AS pada Mei 2026 bahkan mencapai Rp18.171 per dolar AS pada Juni 2026, dan menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia tahun ini. Pada saat yang sama, Bank Indonesia harus menaikkan suku bunga acuan secara agresif dari 4,75% pada April menjadi 5,25% pada Mei, lalu kembali menjadi 5,50% pada Juni dan 5,75% pada pertengahan Juni.

Beberapa kejadian tersebut menunjukkan bahwa stabilitas masih dapat dijaga. Namun, stabilitas itu tidak datang tanpa biaya.

Cadangan devisa memberikan gambaran lainnya. Pada akhir Desember 2025, cadangan devisa Indonesia mencapai 156,5 miliar dolar AS. Pada Januari 2026 posisinya menjadi 154,6 miliar dolar AS, kemudian turun menjadi 148,2 miliar dolar AS pada Maret, 146,2 miliar dolar AS pada April, dan 144,9 miliar dolar AS pada Mei. Pada Juni cadangan devisa kembali meningkat tipis menjadi 145,6 miliar dolar AS.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa pergerakan cadangan devisa tersebut antara lain dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global. Pada saat yang sama, menjaga daya tarik aset keuangan domestik juga menjadi semakin penting.

Ketika risiko meningkat, investor akan meminta kompensasi yang lebih tinggi. Imbal hasil instrumen keuangan rupiah harus cukup menarik dibandingkan alternatif di negara lain.

Read Entire Article
Politics | | | |