Mama Gen Z Wajib Tahu: Anak yang Bisa Baca Belum Tentu Siap Sekolah!

2 hours ago 5

Image Afrahtul Rifqah Salsabila

Parenting | 2026-06-20 23:30:01

Ketika si kecil sudah bisa menyebut angka 1 sampai 20, hafal warna, bahkan sudah bisa membaca beberapa kata sederhana. Mama tentu bangga. Rasanya seperti, “Wah, anakku sudah siap masuk sekolah!”

Namun, beberapa minggu setelah sekolah dimulai, ternyata ceritanya tidak semulus itu. Anak menangis saat ditinggal, tidak mau mengikuti instruksi guru, sulit duduk sebentar, berebut mainan, atau marah ketika harus menunggu giliran. Dari sinilah banyak orang tua mulai bingung, “padahal di rumah anakku pintar, kok di sekolah jadi susah ya?”

Inilah yang sering disalahpahami tentang kesiapan sekolah. Banyak orang tua mengira anak siap sekolah hanya karena sudah bisa membaca, menulis, atau berhitung. Padahal, dalam psikologi perkembangan, kesiapan sekolah tidak hanya soal kemampuan akademik. Anak yang siap sekolah adalah anak yang secara bertahap mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, mengelola emosi, berinteraksi dengan orang lain, mengikuti aturan sederhana, dan belajar secara mandiri sesuai usianya.

UNICEF menjelaskan bahwa kesiapan sekolah mencakup tiga hal: anak yang siap belajar dan berinteraksi dengan lingkungan baru, sekolah yang siap menerima anak, serta keluarga dan lingkungan yang siap mendukung proses transisi anak ke sekolah. Artinya, kesiapan sekolah bukan hanya tanggung jawab anak. Orang tua, keluarga, guru, dan sekolah juga memiliki peran besar dalam membantu anak merasa aman dan siap belajar.

Secara psikologis, kesiapan sekolah sangat berkaitan dengan kemampuan regulasi diri. Regulasi diri adalah kemampuan anak untuk mengatur perhatian, emosi, dan perilakunya. Misalnya, anak mulai bisa menunggu giliran, mendengarkan guru, tidak langsung menangis ketika keinginannya tertunda, atau mencoba menyelesaikan tugas sederhana meskipun belum sempurna. Penelitian tentang school readiness menunjukkan bahwa regulasi diri menjadi salah satu fondasi penting bagi kesiapan anak memasuki sekolah. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa regulasi diri dapat dilatih dan ditingkatkan.

Kemampuan regulasi diri ini berhubungan dengan executive function, yaitu kemampuan otak untuk merencanakan, memfokuskan perhatian, mengingat instruksi, dan mengelola berbagai tugas secara bersamaan. Center on the Developing Child di Harvard menggambarkan executive function seperti “sistem pengatur lalu lintas udara” di otak. Anak tidak lahir langsung memiliki kemampuan ini secara matang, tetapi kemampuan ini dapat berkembang melalui pengalaman, rutinitas, permainan, dan bimbingan orang dewasa.

Jadi, ketika anak belum bisa duduk lama, belum mau berbagi, atau masih mudah menangis saat berpisah dengan Mama, itu bukan berarti anak nakal atau gagal dididik. Bisa jadi, kemampuan regulasi dirinya memang masih dalam proses berkembang. Di usia dini, anak masih belajar mengenali perasaan, memahami aturan, dan menyesuaikan diri dengan orang baru.

Teori perkembangan psikososial menurut Erikson menjelaskan bahwa pada usia 3-5 tahun, anak sedang membangun rasa percaya diri, inisiatif, dan kemandirian. Jika anak terlalu sering dimarahi karena belum bisa, dibandingkan dengan anak lain, atau dipaksa cepat pintar, anak bisa merasa takut salah. Akibatnya, sekolah tidak lagi terasa menyenangkan, tetapi menjadi tempat yang menegangkan.

Kesiapan sekolah juga mencakup keterampilan sosial-emosional. Anak perlu belajar menyapa teman, meminta bantuan, mengatakan tidak suka dengan cara yang baik, dan memahami bahwa di sekolah ada aturan bersama. Hal-hal ini sering terlihat sederhana, tetapi justru sangat penting. Anak yang mampu berinteraksi dengan baik akan lebih mudah mengikuti kegiatan kelas dan merasa nyaman berada di lingkungan sekolah.

Selain itu, orang tua juga perlu memperhatikan kesiapan fisik dan kemandirian dasar. Misalnya, anak mulai bisa makan sendiri, menyampaikan keinginan buang air, mencuci tangan, memakai sepatu, atau menjaga barangnya. Keterampilan ini membuat anak lebih percaya diri karena ia tidak merasa terlalu bergantung pada orang lain.

Lalu, apa yang bisa Mama lakukan di rumah?

Pertama, buat rutinitas harian yang konsisten. Anak cenderung merasa aman jika memiliki jadwal harian yang jelas. Rutinitas membantu otak anak belajar memprediksi keadaan. Anak yang terbiasa dengan rutinitas biasanya lebih mudah menyesuaikan diri. Berbagai penelitian menunjukkan rutinitas yang konsisten berhubungan dengan kemampuan regulasi diri, penyesuaian sosial, dan kesiapan sekolah yang lebih baik.

Kedua, latih anak berpisah secara perlahan. Sebelum masuk sekolah, Mama bisa membiasakan anak bermain bersama saudara, tetangga, atau mengikuti kegiatan singkat tanpa selalu ditemani penuh. Tujuannya untuk membantu anak percaya bahwa berpisah sebentar dari Mama itu aman.

Ketiga, ajak anak bermain yang melatih aturan. Permainan seperti bergiliran melempar bola, menyusun balok, bermain peran sebagai guru dan murid, atau mengikuti instruksi sederhana dapat membantu anak melatih fokus, sabar, dan kerja sama. Harvard juga menekankan bahwa aktivitas bermain yang sesuai usia dapat membantu menguatkan executive function dan regulasi diri anak.

Keempat, biasakan anak mengenal emosi. Mama bisa berkata, “Kamu sedih karena mainannya hilang, ya?” atau “Kamu marah karena kamu gak didengarkan.” Kalimat sederhana seperti ini membantu anak memahami perasaannya. Anak yang bisa mengenali emosi akan lebih mudah belajar mengelolanya.

Kelima, jangan hanya fokus pada calistung. Membaca, menulis, dan berhitung itu penting, tetapi bukan satu-satunya tanda anak siap sekolah. Anak juga perlu diajar mendengarkan cerita, menjawab pertanyaan sederhana, memegang pensil dengan baik, bermain bersama teman, dan menyelesaikan aktivitas kecil sampai selesai.

Keenam, bangun komunikasi positif dengan sekolah. Sekolah juga bertanggung jawab memberi layanan sesuai kebutuhan anak saat memasuki sekolah. Jadi, Mama boleh saja berdiskusi dengan guru tentang kebiasaan, emosi, dan kebutuhan anak.

Kesiapan sekolah bukan tentang siapa yang paling cepat bisa membaca, siapa yang paling lancar berhitung, atau siapa yang paling berani tampil kedepan. Kesiapan sekolah adalah proses anak belajar merasa aman, percaya diri, mandiri, dan siap bertumbuh bersama orang lain.

Mama muda Gen Z tidak perlu panik hanya karena anak belum seperti anak lain. Yang paling dibutuhkan anak adalah pendampingan yang hangat, sabar, dan konsisten, sehingga anak yang merasa dicintai akan lebih berani mencoba. Anak yang merasa aman akan lebih siap belajar.

Karena pada akhirnya, sekolah pertama anak bukanlah ruang kelas. Sekolah pertama anak adalah rumah, dan guru pertamanya adalah orang tua. Maka sebelum bertanya, “Apakah anakku sudah siap sekolah?”, mungkin Mama juga perlu bertanya, “Apakah aku sudah siap mendampingi anakku belajar dengan tenang?”

Anak tidak harus sempurna untuk mulai sekolah. Ia hanya perlu cukup siap, cukup didukung, dan cukup merasa aman untuk melangkah ke dunia barunya.

Penulis: Afrahtul Rifqah Salsabila, Mahasiswa Profesi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |