Mengupas Fenomena Sosial pada Gelaran Piala Dunia 2026

2 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gelaran akbar Piala Dunia 2026 resmi bergulir di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Meski tim nasional Indonesia gagal melaju ke Piala Dunia dan tak pernah menjadi tuan rumah, gaung hajatan empat tahun sekali itu tetap terasa kuat di dalam negeri.

Xinhua berbincang dengan akademisi/peneliti sekaligus pakar psikologi sosial dan perilaku masyarakat dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Haidar Buldan Thontowi Ph.D., yang pernah menjabat direktur Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) UGM, guna mengulas beragam fenomena sosial yang kerap melanda masyarakat sebagai dampak euforia si kulit bundar.

Identitas sosial

Ketika ditanya mengapa banyak masyarakat Indonesia bersikap militan dalam membela tim negara lain meski tak memiliki pertalian dan hubungan darah secara langsung, Buldan memaparkan jawaban menarik yang terkait dengan identifikasi sosial.

"Tentu ada beberapa identitas sosial yang saling beririsan, misalnya karena sama-sama berasal dari Asia, maka tim Jepang dan Korea Selatan dinilai memiliki kesamaan identitas. Hal lainnya mungkin faktor kesamaan agama, sehingga negara yang mayoritas beragama Islam seperti Uzbekistan atau Turkiye juga sangat mungkin memunculkan kesamaan identitas bagi penonton Indonesia," ujar Buldan ketika berbincang dengan Xinhua pada Jumat (19/6).

Meski demikian, ungkap Buldan, tak tertutup kemungkinan adanya identifikasi lain yang bersifat lebih personal bagi seorang individu, seperti pemain idola, kekaguman fisik, prestasi, atau gaya permainan yang menjadi inspirasi. Hal ini menerangkan mengapa banyak penonton Indonesia juga mendukung tim dari Eropa seperti Jerman, Belanda, atau bahkan Inggris yang merupakan negeri asal sepak bola.

"Tim Belanda contohnya, secara historis dianggap dekat dengan Indonesia, karena saat ini banyak pemain naturalisasi dari negara tersebut yang bergabung dengan skuad Indonesia, sehingga membangkitkan identitas baru," terang Buldan yang saat ini mengepalai Unit Jaminan Mutu (UJM) di Fakultas Psikologi UGM.

Menurutnya, identifikasi tersebut tentu bukanlah hal yang negatif selama tidak membawa kerugian dan justru dapat dimanfaatkan untuk hal yang konstruktif. "Contoh saja, dulu sangat jarang ada tim Asia yang mampu melenggang ke Piala Dunia, namun kini semakin banyak tim Asia yang masuk dan diperhitungkan, hal ini dapat dipetik sebagai bahan inspirasi dan motivasi pribadi bagi para suporter untuk turut berprestasi," ujarnya.

Dampak kesehatan mental

Secara jam tayang, Piala Dunia merupakan hiburan berbentuk olahraga yang penyelenggaraannya berbeda zona waktu dengan Indonesia. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat yang ingin menikmati gelaran pertandingan. Lantas, bagaimana cara menyikapi hal tersebut dengan bijaksana?

Buldan membagikan tips agar Piala Dunia 2026 tetap dapat dinikmati masyarakat tanpa mengganggu kesehatan mental. "Paling penting untuk diperhatikan adalah jam tidur yang cukup, karena istirahat yang minim tak hanya berpengaruh bagi kesehatan fisik, namun juga kesehatan mental," ujarnya.

sumber : Xinhua

Read Entire Article
Politics | | | |