Mantan Agen: Secret Service Gagal Amankan Trump Meski Pelaku Sudah Terdeteksi

5 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Mantan agen Secret Service, Tim Miller, menilai lembaga pengamanan presiden Amerika Serikat itu gagal menjalankan misi utamanya saat melindungi Donald Trump dalam insiden penembakan di Butler, Pennsylvania, pada 2024. Menurut dia, kegagalan tersebut terjadi meski pelaku, Thomas Matthew Crooks, telah terdeteksi membawa senjata beberapa menit sebelum melepaskan tembakan.

"Secret Service memiliki misi yang tidak boleh gagal. Namun mereka gagal di Butler. Kegagalannya terjadi pada aspek-aspek mendasar, seperti pengamanan garis pandang, penguasaan atap gedung, koordinasi intelijen, dan koordinasi taktis," kata Miller dalam wawancara dengan GB News.

Penilaian Miller diperkuat oleh laporan resmi Office of Inspector General (OIG) Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat yang dirilis pada Kamis. Laporan tersebut mengungkap bahwa Secret Service telah mengetahui Thomas Matthew Crooks membawa senjata dan berada di posisi menembak sekitar dua menit sebelum delapan tembakan dilepaskan ke arah Trump.

Berdasarkan kronologi dalam laporan, aparat penegak hukum setempat pertama kali melaporkan keberadaan seorang pria mencurigakan di atas atap bangunan pada pukul 18.09 waktu setempat. Namun, sekitar dua menit kemudian, tepat pukul 18.11, Crooks melepaskan delapan tembakan ke arah Trump hingga satu peluru menggores telinga kanan presiden AS tersebut.

Laporan OIG menyimpulkan bahwa kegagalan tersebut dipicu lemahnya kebijakan internal, terbatasnya pertukaran informasi intelijen, serta buruknya koordinasi antara Secret Service dan aparat penegak hukum setempat. Akibatnya, informasi mengenai ancaman yang berkembang di lapangan tidak segera diteruskan kepada tim pengawal Trump.

Salah satu temuan penting dalam laporan itu adalah kegagalan Secret Service mendeteksi drone milik Crooks yang digunakan untuk mengamati lokasi kampanye sebelum penembakan terjadi. OIG juga menemukan adanya kesalahan operator yang hanya menerima pelatihan sekitar 20 menit, sementara kabel ethernet yang mengalami kerusakan baru diperbaiki sekitar 30 menit setelah pelaku menyelesaikan pengintaian.

Laporan tersebut disusun berdasarkan 92 wawancara, telaah terhadap lebih dari 70 ribu dokumen, serta rekonstruksi lokasi penembakan menggunakan model tiga dimensi (3D).

OIG juga mengungkap bahwa tim kampanye Trump sempat menolak usulan Secret Service untuk memarkir kendaraan van yang dapat menghalangi garis pandang pelaku. Kendaraan itu dinilai terlalu dekat dengan posisi Trump sehingga dikhawatirkan mengganggu sudut pengambilan gambar saat kampanye berlangsung.

Selain itu, koordinasi komunikasi dengan aparat penegak hukum setempat juga dinilai bermasalah. Secret Service tidak menerima 102 transmisi radio dari kepolisian lokal karena komunikasi berlangsung melalui ruang komunikasi yang berbeda.

Selama periode yang sama, tim pengamanan Trump hanya menerima lima panggilan telepon dan tiga pesan singkat mengenai Crooks. Bahkan, sejumlah pesan yang menyebutkan bahwa pelaku telah membawa senjata api tidak pernah sampai kepada tim pengawal presiden.

"Terbatasnya komunikasi mengenai orang yang mencurigakan tersebut tidak menimbulkan rasa urgensi bagi personel Secret Service untuk segera menyampaikan informasi itu kepada tim pengawal Presiden Trump," demikian bunyi kesimpulan laporan OIG.

Read Entire Article
Politics | | | |