
Oleh: Imam Nur Suharno, Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat
REPUBLIKA.CO.ID,Tahun ajaran baru akan kembali tiba. Para siswa, baik siswa yang lama maupun siswa baru akan memulai belajar. Di awal masuk sekolah pasca liburan menjadi momen kembali beradabtasi dengan lingkungan dan teman, terutama bagi siswa baru.
Menghadapi kondisi kejiwaan siswa yang masih fluktuatif dalam kesiapan belajar maka diperlukan nasihat di awal belajar. Karena itu, guru terutama wali kelas hendaknya memberikan bekal kepada siswa di awal tahun ajaran baru sekolah.
Melalui opini ini penulis sebagai Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah sedikit memberikan sharing materi bekal bagi siswa di awal masuk sekolah. Semoga materi ini bermanfaat bagi para guru untuk disampaikan kepada siswa.
Materi ini penulis rangkum dari Kitab Ta’lim Al-Muta’allim karya Syaikh Az-Zarnuji yang menjadi kitab wajib di Pondok Pesantren di Tanah Air. Berikut sebelas wasiat dari Syaikh Az-Zarnuji bagi siswa yang sedang berjuang untuk menuntut ilmu.
Pertama, niat yang tulus. Penuntut ilmu wajib berniat untuk waktu belajar, sebab niat menjadi pokok dari segala hal, termasuk dalam menuntuk ilmu.
Kedua, sabar dan tabah dalam belajar. Ketahuilah, sabar dan tabah itu pangkal keutamaan segala hal, tetapi jarang yang bisa melakukan, seperti dikatakan dalam sebuah syair, ”Segala sesuatu, maunya tinggi yang dituju, tapi jarang, hati tabah diemban orang.”
Ketiga, selektif dalam memilih teman. Penuntut ilmu hendaknya memilih teman yang tekun, jujur, dan mudah memahami masalah. Berusaha menghindari teman yang malas, tidak disiplin, banyak bicara, dan suka membuat suasana gaduh.
Keempat, mengagungkan ilmu. Penuntut ilmu tidak akan memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula bermanfaat, selain jika mau mengagungkan ilmu dan ahli ilmu.
Kelima, menghormati guru. Termasuk mengagungkan ilmu adalah menghormati guru. Sahabat Nabi SAW, Ali bin Abi Thalib, pernah mengatakan, ”Saya menjadi hamba sahaya dari orang yang telah mengajarku satu huruf.”
Keenam, selalu khidmat dalam memperhatikan ilmu. Hendaknya penuntut ilmu bisa khidmat dalam memperhatikan ilmu, sekali pun ilmu itu telah ia dengar berulang-ulang.
Ketujuh, menghindari akhlak tercela. Penuntut ilmu harus berusaha menjaga diri dari akhlak tercela, seperti sikap sombong atau takabur. Dikatakan dalam syair, ”Ilmu itu musuh bagi penyombong diri. Laksana air bah, musuh dataran tinggi.”
Kedelapan, kesungguhan hati. Agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat, penuntut ilmu harus bersungguh hati dalam belajar secara kontinu.
Kesembilan, kontinuitas dalam mengulang pelajaran. Penuntut ilmu harus selalu belajar dan mengulang pelajaran yang telah lewat. Hal ini dapat dilakukan pada awal ataupun akhir waktu malam, karena waktu-waktu tersebut adalah waktu yang berkah dan memudahkannya untuk konsentrasi belajar.
Kesepuluh, bercita-cita luhur. Penuntut ilmu hendaknya memiliki cita-cita setinggi mungkin. Dikatakan, manusia terbang dengan cita-citanya, sebagaimana halnya burung terbang dengan sayapnya.
Kesebelas, berusaha sekuat tenaga. Penuntut ilmu hendaknya berusaha sungguh-sungguh guna mencapai kesuksesan, tidak kenal bosan dalam belajar, dengan menghayati keutamaan ilmu.
Semoga Allah membimbing para guru agar istiqamah menasihati siswa, sehingga siswa fokus belajar dan menjadi manusia yang cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual. Amin.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

1 hour ago
9
















































