Memahami Partai Komunis Tiongkok: Sendi Utama Pembangunan Tiongkok

2 hours ago 3

Oleh: Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Wang Lutong

REPUBLIKA.CO.ID -- Pada 1 Juli 2026, Partai Komunis Tiongkok (PKT) memperingati HUT ke-105. Sekjen Xi Jinping menyampaikan pidato penting dalam upacara perayaan tersebut. Tokoh-tokoh politik Indonesia, termasuk Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, mengirimkan surat ucapan selamat kepada Sekjen Xi Jinping.

Mereka menyampaikan ucapan selamat yang hangat atas HUT ke-105 PKT, serta memberikan apresiasi yang tinggi atas pencapaian luar biasa dalam pembangunan ekonomi dan sosial yang diraih rakyat Tiongkok di bawah kepemimpinan PKT, yang sekaligus memberikan kontribusi penting bagi perdamaian dan pembangunan dunia.

Sejak kelahirannya pada tahun 1921 dengan hanya 58 anggota pada awalnya, PKT kini telah tumbuh menjadi partai terbesar di dunia dengan lebih dari 100 juta anggota dan memiliki pengaruh global yang signifikan. Selama 105 tahun terakhir, dalam perjalanan revolusi, pembangunan, reformasi, dan praktik era baru, PKT telah mempersatukan dan memimpin rakyat Tiongkok untuk terus berjuang. PKT berhasil mengubah Tiongkok dari negara yang miskin dan lemah menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia.

Hanya dalam kurun waktu beberapa dekade, Tiongkok berhasil menyelesaikan proses industrialisasi yang membutuhkan waktu ratusan tahun bagi negara-negara maju, serta menciptakan dua keajaiban agung, yaitu perkembangan ekonomi yang pesat dan stabilitas sosial jangka panjang. Jika ingin memahami sendi kunci pembangunan Tiongkok, pertama-tama harus memahami PKT.

Pertama, memahami betapa pentingnya kata "rakyat" di sanubari PKT. Sejak hari kelahirannya, PKT telah mengakar kuat dengan lambang "rakyat". PKT menjadikan tekad untuk "melayani rakyat dengan sepenuh hati" sebagai tujuan mendasar partai, dan selalu menanamkan dalam sanubari bahwa "negara adalah rakyat, dan rakyat adalah negara".

Generasi demi generasi kader PKT telah berjuang tanpa henti, secara historis memberantas kemiskinan absolut, membangun sistem industri yang lengkap, serta mendirikan sistem pendidikan dan sistem jaminan sosial terbesar di dunia, sehingga menorehkan banyak pencapaian yang mengagumkan bagi dunia. Selama 105 tahun, PKT dengan teguh berdiri bersama rakyat Tiongkok, berpikir bersama, dan bekerja bersama, serta dengan tindakan nyata telah meraih dukungan dan sokongan tulus dari rakyat..

Kedua, memahami konotasi zaman dari "Modernisasi ala Tiongkok" yang dijajaki PKT bersama rakyat. Pembangunan Tiongkok merupakan proses eksplorasi jalan modernisasi. Di era baru saat ini, PKT secara konsisten memadukan prinsip-prinsip dasar Marxisme dengan kondisi nyata Tiongkok serta budaya tradisional Tiongkok yang unggul, sehingga berhasil memimpin rakyat menemukan jalan Modernisasi ala Tiongkok.

Modernisasi ala Tiongkok adalah modernisasi dengan skala populasi yang sangat besar, modernisasi kemakmuran bersama bagi seluruh rakyat, modernisasi yang menyelaraskan peradaban material dan spiritual, modernisasi yang menyerasikan hidup berdampingan secara harmonis antara manusia dan alam, serta modernisasi yang menempuh jalan pembangunan damai.

Modernisasi ala Tiongkok telah memperluas jalan bagi negara-negara berkembang untuk menuju modernisasi, serta memberikan pilihan baru bagi negara dan bangsa yang ingin mempercepat pembangunan sekaligus menjaga kemandirian sendiri.

Ketiga, memahami tekad dan keberanian PKT dalam melakukan "Revolusi Diri". Dalam perjalanan 105 tahun, PKT telah teruji oleh berbagai cobaan dan risiko. PKT menyadari dengan jernih bahwa "Untuk menempa besi, diri sendiri harus kuat". PKT selalu mewaspadai diri sendiri dengan kesadaran yang kuat akan potensi krisis, menyempurnakan diri dengan semangat revolusi diri, serta dengan tegas menyingkirkan semua faktor yang dapat merusak kemajuan dan kemurnian partai.

PKT meluncurkan perjuangan antikorupsi yang tiada taranya dalam sejarah. Dengan mengemban misi "Berani mengorbankan segelintir orang demi 1,4 miliar rakyat", PKT berkomitmen pada prinsip tanpa zona terlarang, cakupan menyeluruh, dan toleransi nol. PKT menerapkan strategi multifaset secara serentak, yaitu "Memukul harimau", "Menepuk lalat", dan "Memburu rubah".

Pada tahun 2025, lembaga inspeksi dan pengawasan disiplin Tiongkok telah mengajukan total 1,012 juta kasus untuk diselidiki dan menjatuhkan sanksi kepada 983.000 orang, termasuk 69 pejabat setingkat menteri atau di atasnya. PKT terus memajukan revolusi diri, meningkatkan kemampuan kepemimpinan dalam jangka panjang, menjaga hubungan sedarah dengan massa rakyat, dan senantiasa menjadi inti kepemimpinan yang kuat dalam proses sejarah.

Keempat, memahami kepedulian universal PKT dari visi "Komunitas Senasib Sepenanggungan Umat Manusia" . Lahir dalam gelombang perjuangan pembebasan umat manusia, PKT sejak awal berdirinya telah menaruh perhatian pada masa depan dan nasib umat manusia dengan visi dunia, serta berkomitmen untuk "memberikan kontribusi baru yang lebih besar bagi umat manusia".

Inisiatif Pembangunan Global, Inisiatif Keamanan Global, Inisiatif Peradaban Global, dan Inisiatif Tata Kelola Global saling mendukung dan saling terhubung, memberikan solusi Tiongkok untuk memecahkan masalah global seperti ketidakseimbangan pembangunan, ketidakstabilan keamanan, ketidakpercayaan antarperadaban, dan ketidakadilan tata kelola.

Tiongkok secara aktif memperluas kemitraan global yang setara, terbuka, dan kooperatif; konsisten berbagi nasib dan meraih keuntungan bersama dengan negara-negara tetangga; serta bersatu dan bekerja sama dengan negara-negara berkembang untuk menjaga kepentingan bersama dari Global South. Dari bilateral ke multilateral, dari regional ke global, pembangunan Komunitas Senasib Sepenanggungan Umat Manusia tengah beralih dari inisiatif Tiongkok menjadi konsensus internasional, berkembang dari "Nyanyian tunggal" menjadi "Paduan suara bersama."

Kesuksesan PKT berakar pada sikapnya yang mengesampingkan prasangka dan melampaui konfrontasi ideologis. PKT tidak pernah membedakan negara lain berdasarkan sistem atau jalur pembangunan, serta tidak pernah memaksakan model pembangunannya sendiri kepada negara lain, melainkan menghormati hak rakyat semua negara untuk memilih jalan pembangunan mereka secara mandiri.

PKT berpendapat bahwa negara-negara dengan peradaban, sistem, dan tahap pembangunan yang berbeda harus saling bertukar dan belajar dalam kesetaraan, serta memperluas kerja sama sambil mencari kesamaan di tengah perbedaan.

Pertukaran tata kelola negara antara Tiongkok and Indonesia kian hari kian mendalam. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua negara telah melaksanakan berbagai bentuk pertukaran dan kerja sama seputar isu-isu tata kelola negara, revitalisasi pedesaan, pengentasan kemiskinan dan pembangunan, serta peningkatan kapasitas kader.

Belum lama ini, Kedutaan Besar Tiongkok bersama dengan kementerian yang terkait di Indonesia bersama-sama menyelenggarakan acara promosi buku Xi Jinping: The Governance of China (Jilid V, Versi Bahasa Inggris ), guna membantu berbagai kalangan di Indonesia memahami lebih dalam konsep pembangunan dan pengalaman praktis Tiongkok.

Kami juga menyelenggarakan program pelatihan seperti "Kelas Kepala Desa" yang disesuaikan dengan kebutuhan tata kelola daerah di Indonesia, dengan mengundang kader-kader akar rumput Indonesia ke Tiongkok untuk mempelajari pembangunan pedesaan, pengembangan industri, dan pengalaman tata kelola akar rumput, yang telah membuahkan hasil positif.

Kedua negara berpegang pada prinsip saling menghormati, saling belajar, berbagi pengalaman, dan menginspirasi pemikiran dalam pertukaran tersebut, demi bersama-sama menjajaki jalan pembangunan yang sesuai dengan kondisi nasional masing-masing.

Menatap masa depan, Tiongkok bersedia untuk terus bekerja sama dengan komunitas internasional, termasuk Indonesia, untuk saling menghormati demi memperdalam pengertian, saling menguntungkan demi meraih kemenangan bersama, dan berbagi nasib demi menciptakan masa depan.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Politics | | | |