Menengadah pada Langit yang Sama

1 hour ago 3

Oleh : Prof Ema Utami (Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta)

REPUBLIKA.CO.ID, Walau perkembangan teknologi seperti smartphone atau jam pintar telah menyediakan kalender digital di genggaman, banyak masyarakat tetap setia menggantung kalender fisik di dinding rumah. Deretan angka pada kertas, seperti halnya pada layar perangkat, telah digunakan untuk menata ritme hidup, yakni kapan bekerja, kapan beribadah, kapan mengingat momen keluarga, dan kapan merencanakan sesuatu yang lebih jauh. Menariknya, kalender yang paling umum terpajang hampir selalu kalender Masehi, kalender yang disusun berdasarkan pergerakan matahari dan pergantian musim.

Bagi umat Islam, tentu selain kalender Masehi terdapat kalender Hijriah. Kalender ini dihitung berdasarkan peredaran bulan dan menjadi penanda utama bagi ibadah-ibadah besar seperti Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Nama-nama bulannya cukup akrab di telinga dan muncul di sudut kalender Masehi, disebut dalam khutbah, atau tercetak kecil di lembaran jadwal. Namun dalam praktik keseharian, kalender Hijriah jarang dijadikan acuan utama untuk mengatur agenda keluarga, sekolah, maupun institusi. Ia lebih sering hadir sebagai pelengkap, dan baru ramai diperbincangkan ketika momentum ibadah besar tiba.

Situasi semacam inilah yang kembali terlihat pada Rabu, 18 Februari 2026. Tanggal tersebut telah ditetapkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah sejak 22 September 2025 sebagai awal Ramadhan 1447 Hijriah, dan dalam beberapa hari terakhir kembali menjadi perbincangan hangat di ruang publik, terutama di media sosial. Penetapan ini sejatinya bukan keputusan mendadak, sebab sejak Juni 2025 Muhammadiyah telah memutuskan menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai pedoman penanggalan.

Keputusan tersebut memantik beragam respons, ada yang melihatnya sebagai langkah maju menuju kepastian kalender yang dapat diprediksi jauh hari, namun tidak sedikit pula yang mengkritiknya karena dinilai berpotensi memperlebar perbedaan penentuan tanggal ibadah dengan metode yang selama ini dipakai di Indonesia.

Di sisi lain, diskursus mengenai KHGT justru menarik karena menyentuh banyak cabang ilmu sekaligus, yaitu Astronomi, Fikih, Sejarah, Sosiologi, bahkan Matematika. Dalam dunia akademik, terutama di lingkungan mahasiswa Magister dan Doktoral, misalnya yang saya jumpai di Universitas Amikom Yogyakarta, perbedaan metode dalam menyelesaikan satu persoalan adalah sesuatu yang lumrah. Dua orang bisa sama-sama berangkat dari tujuan yang sama, sama-sama memakai data yang benar, tetapi menghasilkan kesimpulan yang berbeda karena kerangka berpikir dan asumsi dasarnya tidak identik.

Begitu pula dalam polemik KHGT. Pada dasarnya semua pihak mengusung tujuan yang sama, yaitu memastikan kapan sebuah bulan baru Hijriah dimulai. Perbedaannya muncul karena 'awal bulan' dalam tradisi Islam tidak hanya dipahami sebagai fenomena astronomi, tetapi juga terkait dengan cara syariat mengajarkan umat untuk menandai suatu waktu. Di titik ini, diskusi menjadi lebih sensitif, sebab menyentuh ranah keyakinan dan otoritas fikih yang selama ini dipegang kuat oleh masing-masing kelompok.

Hal semacam ini agak berbeda dengan riset di bidang Informatika, misalnya dalam Tesis atau Disertasi. Perbedaan pendekatan dalam penelitian bidang ini biasanya lebih mudah diuji dengan ukuran yang jelas, yakni apakah sistem berjalan atau tidak, apakah akurasinya meningkat atau tidak, apakah modelnya lebih efisien atau tidak. Sementara dalam penanggalan Hijriah, selain berhadapan dengan angka-angka dan data langit, kita juga harus menjawab pertanyaan yang tidak sederhana: "Standar apa yang dianggap sah untuk dijadikan pegangan bersama?"

Menariknya, polemik kalender Hijriah di tahun ini muncul hampir bersamaan dengan suasana Tahun Baru Imlek yang juga ditentukan oleh siklus bulan. Dua tradisi besar yang berbeda, sama-sama menengadah ke langit, sama-sama menjadikan bulan sebagai penanda pergantian waktu. Momen kali ini seolah mengingatkan bahwa peradaban manusia, betapapun berbeda jalannya, tetap bergantung pada langit yang sama. Bulan bergerak pada orbitnya, matahari menempuh garis edarnya, dan waktu berjalan dengan keteraturan yang tidak pernah ingkar. KHGT, rukyat, hisab, maupun perbedaan metode, merupakan upaya manusia membaca tanda-tanda-Nya dengan cara masing-masing. Dan Allah telah mengingatkan dalam ayat-Nya: “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.” (QS. Ar-Rahman: 5). Wallāhu a‘lam.

Read Entire Article
Politics | | | |