REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Memasuki usia ke-499, Jakarta terus berbenah menyongsong era baru dalam perjalanan kota. Penataan kawasan, penguatan integrasi transportasi publik, dan perubahan pola pengelolaan sampah menjadi bagian dari langkah Jakarta menuju kota global yang inklusif dan berkelanjutan.
Rangkaian peringatan hari jadi tahun ini tidak hanya diisi kegiatan seremonial. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menjadikannya kesempatan untuk menunjukkan hasil pembenahan yang dapat dirasakan langsung oleh warga sekaligus menyiapkan pembangunan jangka panjang menuju usia lima abad.
Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta sekaligus Ketua Panitia HUT ke-499 Jakarta, Suharini Eliawati, mengatakan transformasi kota perlu ditopang kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
“Menjelang usia ke-500 tahun, Jakarta terus berbenah dan bergerak maju. Dengan semangat kolaborasi, kita bersama-sama mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Suharini dalam keterangannya, Sabtu (20/6/2026).
Menata Ruang, Menyambungkan Kota
Salah satu pembenahan yang dilakukan adalah penataan Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan hasil penataan koridor tersebut pada Ahad (21/6/2026).
Penataan sepanjang 3,8 kilometer itu mengakhiri keberadaan tiang monorel yang terbengkalai selama sekitar dua dekade. Sebanyak 109 titik tiang dibongkar sejak Januari 2026 dan seluruh pekerjaan diselesaikan dalam waktu sekitar lima bulan.
Pemprov DKI juga membenahi elevasi dan konsistensi lebar jalan, saluran drainase, trotoar, ruang hijau, penerangan jalan umum, serta fasilitas pejalan kaki. Koridor tersebut kini juga menjadi lokasi Hari Bebas Kendaraan Bermotor setiap Ahad pukul 05.30 hingga 09.00 WIB.
“Rasuna Said telah rampung dan baru saja saya resmikan. Peresmian ini juga sebagai upaya menghadirkan infrastruktur yang mendukung mobilitas warga menuju Jakarta sebagai kota global,” kata Pramono.
Dalam kesempatan yang sama, Halte Transjakarta Setiabudi resmi berganti nama menjadi Halte Setiabudi Integritas. Penamaan hasil kolaborasi Pemprov DKI dengan Komisi Pemberantasan Korupsi itu membawa pesan antikorupsi ke ruang publik yang dilalui warga setiap hari.
Perubahan nama diikuti penyesuaian pada papan petunjuk, peta rute, dan pengumuman suara di dalam armada Transjakarta. Pramono berharap nilai integritas juga tercermin dalam kualitas pelayanan publik yang diberikan kepada warga.
Pembenahan konektivitas dilanjutkan melalui pencanangan pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas. Infrastruktur yang dikenal sebagai Jembatan Donat itu akan menghubungkan MRT Jakarta, LRT Jabodebek, KRL Commuter Line, Kereta Bandara Soekarno-Hatta, Transjakarta, dan LRT Jakarta.
Proyek yang ditargetkan rampung pada akhir 2028 tersebut dirancang untuk mempermudah perpindahan antarmoda serta meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pejalan kaki, termasuk penyandang disabilitas.
“Kehadirannya akan meningkatkan konektivitas, keselamatan, dan kenyamanan pejalan kaki, sekaligus memperkuat integrasi antarmoda transportasi publik,” ujar Pramono.
Selain berfungsi sebagai jalur penghubung, pedestrian deck diharapkan menghidupkan ruang publik dan aktivitas ekonomi di kawasan Sudirman-Dukuh Atas.
Pemprov DKI membuka peluang pembiayaan kreatif bersama sektor perbankan, badan usaha milik daerah, dan pemangku kepentingan lain agar pembangunan tidak hanya bergantung pada APBD.
Perkuat Gerakan Pilah Sampah
Upaya menuju kota global tidak hanya dilakukan melalui pembangunan infrastruktur. Pemprov DKI juga mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya. Komitmen tersebut diperkuat melalui Apel Siaga Pilah Sampah yang dipimpin Pramono bersama Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Ahad (21/6/2026).
Gerakan ini penting karena Jakarta menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah setiap hari. Sementara itu, TPST Bantargebang telah mendekati kapasitas maksimum dengan timbunan sampah rata-rata mencapai ketinggian sekitar 60 meter. Kondisi tersebut tidak lagi dapat diatasi hanya dengan pola angkut dan buang.
Melalui Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Pemilahan dan Pengelolaan Sampah dari Sumber, rumah tangga, permukiman, sekolah, perkantoran, pasar, pusat perdagangan, dan kawasan usaha didorong memisahkan sampah organik dan anorganik.
Pramono mengatakan sejumlah lingkungan warga telah mengembangkan berbagai cara pengolahan, mulai dari budidaya maggot hingga pemanfaatan sampah menjadi pupuk. Praktik tersebut perlu diperluas agar pemilahan tidak berhenti sebagai program sesaat.
“Banyak RT dan RW yang telah lebih maju dari yang kami perkirakan. Karena itu, gerakan ini tidak boleh kendur dan harus terus diperluas agar menjadi budaya seluruh warga Jakarta,” ujarnya.
Zulkifli Hasan menilai keterlibatan masyarakat menjadi penentu keberhasilan penanganan sampah. Sampah organik dapat diolah menjadi pupuk atau produk lain, sedangkan sampah anorganik dapat masuk ke proses daur ulang.
“DKI Jakarta tidak hanya menghadirkan regulasi, tetapi juga telah melakukan aksi secara masif hingga tingkat RT dan RW. Daerah lain dapat mencontoh langkah yang dilakukan Jakarta,” kata Zulkifli.
Sebagai apresiasi sekaligus mendorong partisipasi warga, Pemprov DKI memberikan penghargaan kepada sejumlah RW terbaik di lima kota administrasi dan Kabupaten Kepulauan Seribu yang berhasil menerapkan pemilahan sampah dari sumbernya.

1 hour ago
3













































