Pahala Jumbo di Bulan Ramadhan, Saat Ibadah Sunah Diganjar Setara Fardhu

3 hours ago 3

Warga menunggu waktu untuk berbuka puasa bersama di Masjid Sheikh Zayed, Solo, Jawa Tengah, Kamis (19/2/2026). Badan Pengelola Masjid Raya Syeikh Zayed menyiapkan tujuh ribu paket makan dan takjil berbuka puasa setiap harinya selama bulan Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, Bulan suci Ramadhan bukan hanya menghadirkan kewajiban berpuasa, tetapi juga limpahan pahala yang berlipat ganda bagi setiap amal ibadah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Salman al-Farisi, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa amalan sunah di bulan Ramadhan bernilai seperti amalan fardhu di luar Ramadhan, sementara satu amalan wajib di dalamnya diganjar pahala setara tujuh puluh amalan wajib di bulan lainnya.

Pesan ini menjadi pengingat agar umat Islam tidak hanya bersemangat menambah ibadah sunah, tetapi juga lebih sungguh-sungguh menjaga dan menyempurnakan kewajiban. Sayyidina Salman Radhiyallahu anhu berkata, "Pada akhir bulan Syaban, Nabi Muhammad SAW berkhutbah kepada kami."

"Rasulullah SAW bersabda: Wahai manusia, telah dekat kepadamu bulan yang agung lagi penuh berkah. Bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Bulan yang di dalamnya Allah SWT menjadikan puasa sebagai fardhu dan bangun malam (Sholat Tarawih) sebagai sunah."

"Barangsiapa mendekatkan diri di dalamnya dengan beramal sunnah, maka (pahalanya) seperti orang yang beramal fardhu pada bulan lain. Barangsiapa beramal fardhu di dalamnya, maka pahalanya seperti orang yang beramal tujuh puluh amalan fardhu pada bulan lain." (HR Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, Ibnu Hibban)

Dijelaskan Syaikhul Hadits Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi Rahmatullah alaih dalam Kitab Fadhilah Ramadhan, berkenaan dengan hal ini, kita hendaknya memikirkan keadaan ibadah kita.

Dalam bulan keberkahan ini yakni Ramadhan, hendaknya kita berpikir, sejauh manakah perhatian kita dalam menyempurnakan kewajiban dan menambah amalan sunah.

Perhatian kita terhadap amalan fardhu saat ini, mungkin ada di antara kita meneruskan tidur setelah sahur, sehingga mengqadha sholat Subuh, setidak-tidaknya tertinggal sholat berjamaah.

Seolah-olah itu cara kita mensyukuri makan sahur. lbadah wajib yang sangat perlu diperhatikan, malah kita qadha atau paling tidak kita kurangi. Padahal, para ulama berpendapat bahwa sholat tanpa berjamaah adalah suatu kekurangan.

Read Entire Article
Politics | | | |