Pakar Minta Waspadai Potensi Manipulasi dalam Proses Buyback Saham Bank BUMN

2 days ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebijakan pembelian kembali (buyback) saham oleh tiga bank BUMN berpotensi membuat pasar modal semakin tidak stabil dan rentan manipulasi harga. Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai, langkah ini bisa berdampak negatif jika tidak diiringi dengan penguatan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG).

"Kebijakan buyback ini bagus, tetapi harus diikuti dengan penegakan GCG yang serius di pasar modal kita. Kalau tidak, dengan jumlah saham beredar yang semakin sedikit akibat buyback, para manipulator harga saham akan semakin mudah bermain. Pasar modal kita akan semakin tidak stabil dan artifisial, membuat investor serius enggan masuk," ujar Wijayanto dalam pesan singkatnya, pekan lalu.

Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mendukung perbaikan pasar modal agar lebih transparan dan kredibel. "Pak Prabowo (Presiden RI) perlu memberikan dukungan penuh kepada OJK untuk memperbaiki pasar modal kita, karena pasar modal adalah jendela bagi investor global untuk melihat ekonomi kita. Jika kaca jendelanya buram, maka buram juga persepsi dunia tentang ekonomi kita, dan sebaliknya," tambahnya.

Sejumlah bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melakukan aksi buyback atau pembelian kembali saham. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menyetujui pembelian kembali saham sebesar Rp 3 triliun.

"BRI juga akan melakukan pembelian kembali (buyback) saham dengan jumlah sebesar-besarnya Rp 3 triliun," ujar Sekretaris Perusahaan BRI, Agustya Hendy Bernadi, saat RUPST BRI di Jakarta, Kamis (27/3/2025).

Aksi buyback ini dilakukan melalui Bursa Efek maupun di luar Bursa Efek, baik secara bertahap maupun sekaligus, dan diselesaikan paling lama 12 bulan setelah tanggal RUPST. Langkah ini diambil sebagai strategi perusahaan untuk meningkatkan nilai pemegang saham dan mendukung program kepemilikan saham bagi karyawan.

Bank Mandiri juga menyetujui rencana pembelian kembali saham senilai Rp 1,17 triliun. Hal ini tertuang dalam persetujuan RUPST Bank Mandiri di Jakarta, Selasa (25/3/2025).

"Langkah ini merupakan bagian dari strategi perseroan untuk meningkatkan keyakinan investor terhadap prospek jangka panjang Bank Mandiri yang ditopang oleh fundamental yang solid dan kinerja yang terus tumbuh," ujar Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi.

Darmawan menyebutkan bahwa 78 persen dari laba bersih konsolidasi 2024 atau senilai Rp 43,51 triliun akan dibagikan sebagai dividen kepada pemegang saham. Sementara itu, 22 persen sisanya ditetapkan sebagai laba ditahan untuk memperkuat struktur permodalan dan pengembangan usaha ke depan.

Aksi buyback ini juga diikuti oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI. Dalam RUPST di Jakarta, Rabu (26/3/2025), pemegang saham menyetujui pembelian kembali saham sebesar Rp 1,5 triliun.

Sekretaris Perusahaan BNI, Okki Rushartomo, menjelaskan bahwa aksi buyback ini dilakukan untuk memberikan indikasi kepada investor bahwa harga saham saat ini tidak mencerminkan fundamental perseroan. "RUPST menyetujui pengalihan saham hasil buyback untuk pelaksanaan program kepemilikan saham pegawai dan/atau direksi dan dewan komisaris yang memenuhi syarat untuk memiliki saham perseroan dan/atau dalam rangka pengalihan lainnya sesuai persetujuan OJK," jelas Okki.

Langkah buyback saham yang dilakukan sejumlah bank BUMN ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor dan memperkuat nilai perusahaan. Namun, penguatan regulasi dan pengawasan tetap diperlukan agar pasar modal tetap sehat dan stabil.

Read Entire Article
Politics | | | |