REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Malioboro kembali menjadi perhatian publik. Kali ini, aksi seorang penjual sate yang berguling-guling di trotoar saat sebelumnya berusaha menghindari petugas Satpol PP Kota Yogyakarta viral di media sosial.
Peristiwa tersebut terjadi Selasa (27/1/2026), malam, saat Satpol PP Kota Yogyakarta melakukan penertiban rutin terhadap PKL yang nekat berjualan di kawasan Jalan Suryatmajan, Malioboro. Dalam operasi tersebut, petugas menertibkan total 13 PKL, terdiri dari 8 PKL di Malioboro dan 5 PKL di Jalan Pasar Kembang.
Dikonfirmasi terkait video viral yang menunjukkan seorang penjual sate berteriak histeris hingga berguling-guling di trotoar itu, Kepala Bidang Penegakan Peraturan Perundang-undangan Satpol PP Kota Yogyakarta, Dodi Kurnianto, menegaskan kejadian tersebut bukan akibat tindakan kekerasan dari petugas. "Saat petugas datang, beberapa pedagang langsung berlarian. Yang kemudian viral di media sosial tadi malam itu adalah salah satu pedagang yang lari dan terjatuh sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan atau kekerasan," katanya dikonfirmasi wartawan.
Dodi mengatakan Jalan Suryatmajan merupakan zona terlarang bagi aktivitas PKL, khususnya pada malam hari. Penertiban yang dilakukan merupakan bagian dari operasi rutin dan berkelanjutan.
Sebelum penertiban dilakukan, Satpol PP telah melakukan sosialisasi terlebih dahulu dan memberikan peringatan kepada para pedagang. Namun, masih ada PKL yang memilih berjualan dan melakukan praktik kucing-kucingan dengan petugas.
"Penertiban dilakukan di kawasan Malioboro, khususnya Jalan Suryatmajan. Lokasi itu memang tidak diperbolehkan untuk aktivitas PKL, terutama pada malam hari," katanya.
"Kami sudah berulang kali melakukan penindakan," ujarnya menambahkan.
Dalam penertiban tersebut, Satpol PP hanya mengamankan barang dagangan milik PKL, bukan orangnya. Dodi juga mengungkapkan bahwa keberadaan PKL ilegal, khususnya penjual sate, kerap dikeluhkan oleh wisatawan dan pemilik usaha di sekitar Malioboro.
Asap sate yang dibakar pedagang di kawasan itu seringkali mengganggu wisatawan bahkan masuk ke toko batik dan oleh-oleh yang berada di sisi belakang dan sampingnya. Akibatnya, dagangan yang dipajang toko-toko bau asap sate.
"Banyak keluhan dari pemilik usaha di sekitar Malioboro dan juga dari wisatawan. Selain mengganggu kenyamanan, persoalan sampah juga menjadi masalah serius," ungkapnya.
Terpisah, Wakil Walikota Yogyakarta, Wawan Harmawan ikut menanggapi pedagang sate di kawasan Malioboro yang viral karena berteriak histeris dan berguling-guling tersebut. Wawan mengingatkan kawasan Malioboro saat ini bebas dari aktivitas pedagang kaki lima (PKL).
Ini sebagai bentuk memberikan kenyamanan bagi masyarakat atau wisatawan. Wawan tak menepis untuk memberikan pemahaman kepada PKL memang sulit dilakukan dan perlu kesabaran.
"Memang daerah situ tiba-tiba muncul banyak. Petugasnya hilang nanti pada ngumpul lagi," kata Wawan ditemui di Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta, Kamis (29/1/2026).

2 hours ago
2















































