Pintarnya Manusia Purba Sulawesi, Menggambar Adegan Naik Kuda, Naik Perahu, dan Kelompok Berburu

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dunia arkeologi kembali mencatat tonggak penting dari Indonesia. Gambar cadas tertua di dunia berupa cap tangan manusia yang berusia setidaknya 67.800 tahun ditemukan di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature berjudul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi”.

Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, Dr Adhi Agus Octavian salah satu situs penting di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yakni Leang Metanduno, memperlihatkan bahwa seni cadas tidak hanya berupa stensil cap tangan, tetapi juga menggambarkan adegan hubungan manusia dengan hewan, alam, dan aktivitas sosial.

“Di Metanduno ini tidak hanya ada tiga cap tangan. Banyak yang sudah tertutup koraloid. Yang menarik, di sini muncul narasi manusia modern dengan hewan dan lingkungannya,” ujar Adhi dalam Konferensi Pers di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Adhi menjelaskan, tim peneliti telah membuat model 3D kondisi gua Leang Metanduno untuk melihat komposisi panel gambar secara lebih utuh. “Ini kondisi guanya, kami sudah membuat model 3D. Dan memang di Metanduno itu didominasi oleh gambar-gambar penutur Austronesia,” jelasnya.

Berbeda dengan situs seni cadas tertua yang umumnya berupa cap tangan prasejarah, Metanduno justru memperlihatkan fase budaya yang lebih muda, ketika manusia telah mengenal pelayaran, domestikasi, dan perburuan terorganisasi.

Ini terekam dalam panel Metanduno, Adhi menunjukkan adanya figur hewan berukuran besar yang menyerupai kuda atau sapi, disertai gambar-gambar perahu sebagai bukti kuat tradisi maritim masyarakat masa lalu.

“Salah satu yang paling besar terlihat seperti gambar kuda atau sapi besar. Lalu ada gambar perahu, ini bukti-bukti maritim. Ada juga domestikasi dan adegan perburuan,” katanya.

Tidak hanya hewan, figur manusia juga mendominasi panel. “Kebanyakan ada figur manusia. Dan panel pertanggalannya berada di bagian kanan, di langit-langit gua,” jelas Adhi.

Beberapa gambar kini tertutup lapisan mineral (koraloid) dan warna coklat, namun narasinya masih dapat dikenali. “Ada gambar seperti ayam, ada orang naik kuda mungkin sambil memegang parang. Ada juga figur warna hitam di sana,” tambahnya.

Menurut Adhi, gambar cadas di Metanduno memperlihatkan bahwa seni prasejarah bukan sekadar ekspresi visual, tetapi juga arsip sosial yang merekam cara manusia berinteraksi dengan alam, hewan, teknologi, dan sesamanya.

“Di sini kita tidak hanya melihat cap tangan, tetapi cerita tentang pelayaran, perburuan, domestikasi, dan kehidupan manusia modern di Nusantara,” kata dia.

Dengan demikian, temuan gambar cadas di Leang Metanduno memperkuat posisi Indonesia bukan hanya sebagai lokasi seni tertua dunia, tetapi juga sebagai ruang penting narasi panjang peradaban manusia di Asia–Pasifik.

sumber : Rilis

Read Entire Article
Politics | | | |