PMII Jabar Deklarasikan Dasasila Pergerakan, Tegaskan Komitmen Keadilan Global

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Barat resmi melantik Pengurus Koordinator Cabang (PKC) periode terbaru di GOR Saparua, Kota Bandung, Jumat (1/5/2026).

Pelantikan ini tidak hanya menjadi agenda organisasi, juga momentum penegasan arah ideologis pergerakan di tengah dinamika global.

Ketua PKC PMII Jawa Barat, Rusli Hermawan mengatakan pelantikan ini sekaligus menghidupkan kembali semangat historis Bandung sebagai pusat lahirnya gagasan keadilan dan kesetaraan dunia.

Menurut dia, Bandung memiliki jejak penting sejak penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika 1955 yang melahirkan semangat solidaritas antarbangsa. “Spirit Bandung bukan sekadar nostalgia sejarah, tetapi menjadi kompas moral menghadapi ketimpangan global hari ini.”

Ia menjelaskan, dominasi global saat ini tidak lagi hadir dalam bentuk kolonialisme klasik, melainkan melalui ketimpangan ekonomi, hegemoni teknologi, hingga narasi demokrasi yang manipulatif.

Karena itu, PMII Jawa Barat merumuskan sebuah dokumen ideologis bertajuk Dasasila Pergerakan.

Dokumen tersebut, kata Rusli, menjadi kontribusi pemikiran dari Jawa Barat untuk gerakan nasional dan global, sekaligus menegaskan posisi PMII sebagai bagian dari kekuatan moral yang berpihak pada kemanusiaan dan keadilan.

“Dasasila Pergerakan ini bukan sekadar rumusan normatif, tetapi menjadi arah praksis gerakan. PMII harus hadir sebagai subjek sejarah yang aktif memperjuangkan keadilan global dan kedaulatan bangsa,” katanya.

Ia menambahkan, prinsip-prinsip yang tertuang dalam Dasasila Pergerakan mencakup penegasan nilai kemanusiaan, penolakan terhadap segala bentuk dominasi dan intervensi, hingga pentingnya membangun perdamaian global berbasis keadilan.

PMII Jawa Barat juga menekankan pentingnya solidaritas antarbangsa tertindas serta penguatan kedaulatan ekonomi nasional sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi.

Rusli menegaskan, di tengah krisis global yang terus berkembang, pergerakan tidak boleh bersikap netral terhadap ketidakadilan. “Dari Bandung, kita menegaskan kembali jika dunia tidak memberi ruang yang adil, maka pergerakan harus menciptakannya,” ucapnya.

Read Entire Article
Politics | | | |