Produk Turunan Sawit Jadi Peluang Baru bagi UMKM

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pengembangan industri hilir kelapa sawit dinilai dapat membuka peluang usaha baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hilirisasi juga dinilai berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas sawit sehingga manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati di sektor hulu.

Ketua Umum Serikat Petani Kelapa Sawit Indonesia (SPKS) Sabarudin mengatakan, pengembangan hilirisasi perlu diperkuat agar petani tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga memperoleh manfaat dari rantai nilai industri sawit.

“Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap komoditas perkebunan. Sawit bukan hanya berbicara tentang kebun dan panen, tetapi tentang inovasi, kewirausahaan, teknologi, dan masa depan ekonomi masyarakat. Petani harus menjadi pelaku utama dalam rantai nilai industri sawit, bukan hanya sebagai pemasok bahan baku,” kata Sabarudin dalam Workshop UMKM Sawit di Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra), Kendari, dikutip Selasa (7/7/2026).

Menurut Sabarudin, pengembangan industri hilir sawit dapat membuka peluang usaha di berbagai sektor, mulai dari pangan, kosmetik, energi terbarukan, hingga industri kreatif. Karena itu, SPKS menggandeng perguruan tinggi untuk mengenalkan potensi bisnis berbasis produk turunan sawit kepada generasi muda.

“Mahasiswa adalah agen perubahan. Mereka memiliki kreativitas, kemampuan riset, dan penguasaan teknologi digital. Jika potensi itu dipadukan dengan kekayaan sumber daya perkebunan Indonesia, maka akan lahir wirausaha muda yang mampu menciptakan produk-produk inovatif sekaligus memperkuat ekonomi petani,” ujarnya.

Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP Helmi Muhansyah mengatakan, pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan industri sawit nasional. Menurut dia, mahasiswa dan generasi muda perlu didorong menjadi inovator yang mampu mengembangkan produk turunan sawit sesuai kebutuhan pasar.

“Kami tidak hanya membangun kebun sawit yang produktif, tetapi juga membangun manusianya. Mahasiswa dan generasi muda harus dipersiapkan menjadi inovator yang mampu mengembangkan produk turunan sawit dengan memanfaatkan teknologi, kreativitas, dan kebutuhan pasar yang terus berkembang,” ujar Helmi.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Perkebunan Sulawesi Tenggara Ihlas Landu mengatakan, hilirisasi berpotensi memberikan nilai ekonomi yang lebih besar dibandingkan hanya mengandalkan penjualan tandan buah segar. Menurut dia, pelibatan petani, koperasi, UMKM, dan perguruan tinggi menjadi faktor penting agar manfaat ekonomi industri sawit semakin luas.

“Perkebunan sawit telah memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan penciptaan lapangan kerja. Tantangan berikutnya adalah bagaimana membangun industri hilir yang melibatkan petani, koperasi, UMKM, dan perguruan tinggi sehingga manfaat ekonomi semakin besar dirasakan masyarakat,” kata Ihlas.

Workshop tersebut digelar dalam program Sawit Goes to Campus yang diinisiasi SPKS bersama BPDP untuk memperluas pemahaman mengenai hilirisasi sawit sekaligus mendorong lahirnya UMKM dan wirausaha baru berbasis produk turunan sawit.

Read Entire Article
Politics | | | |