Rahasia Kesucian Allah di Balik Arsy

6 hours ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada manusia yang mencari Tuhan dengan kerendahan hati. Tetapi ada pula manusia yang mencoba membentuk Tuhan sesuai keinginan dan bayangannya sendiri. Sejarah panjang manusia dipenuhi oleh kecenderungan itu: ketika akal mulai merasa cukup besar untuk mendefinisikan Zat Yang tak mungkin dijangkau sepenuhnya oleh pikiran.

Dalam Surah Az-Zukhruf ayat 81–83, Alquran seperti menurunkan hujan kesejukan di tengah kekacauan keyakinan manusia. Ayat-ayat ini tidak berteriak. Tidak meledak-ledak. Tetapi tenang, agung, dan sangat menusuk ke dalam hati.

Allah berfirman:

قُلْ إِن كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدٌ فَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْعَٰبِدِينَ

qul ing kāna lir-raḥmāni waladun fa ana awwalul-‘ābidīn

“Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu).”

Ayat ini terdengar lembut, tetapi sebenarnya menghancurkan seluruh anggapan bahwa Allah memiliki anak.

Menurut para mufasir, ini bukan pengakuan kemungkinan Allah mempunyai anak. Justru sebaliknya. Ini adalah cara Alquran menunjukkan sesuatu yang mustahil dengan sangat elegan.

Seolah Allah berkata: “Kalau memang itu benar, tentu Nabi-Ku yang paling dahulu mempercayainya. Tetapi karena itu mustahil, maka beliau menjadi orang pertama yang menolaknya.”

Betapa sering manusia memproyeksikan dirinya kepada Tuhan. Manusia memiliki anak karena: ia lemah, menua, takut sendiri, membutuhkan penerus.

Tetapi Allah tidak pernah disentuh kelemahan. Dia tidak menua. Tidak mati. Tidak membutuhkan pewaris. Tidak membutuhkan siapa pun untuk menopang kekuasaan-Nya.

Karena itu Alquran menggunakan nama: Ar-Rahman. Yang Maha Pengasih.

Kasih sayang Allah begitu luas hingga seluruh makhluk hidup di bawah naungan-Nya. Dan Zat dengan kasih seluas itu tidak membutuhkan keturunan untuk melengkapi diri-Nya.

Lalu ayat berikutnya turun seperti cahaya yang membersihkan langit dari kabut:

سُبْحَٰنَ رَبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبِّ ٱلْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

sub-ḥāna rabbis-samāwāti wal-arḍi rabbil-‘arsyi ‘ammā yaṣifụn

“Maha Suci Tuhan Yang empunya langit dan bumi, Tuhan Yang empunya ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu.”

Read Entire Article
Politics | | | |