Ramadhan Hijau: Puasa dan Mencintai Bumi

3 hours ago 6

Image Arinafril - Dosen dan Peneliti

Adab | 2026-02-23 16:05:07

Ada sebuah momen yang mungkin pernah kita rasakan bersama: Duduk di meja makan saat berbuka, dikelilingi hidangan yang melimpah, dan diam-diam menyadari bahwa separuh dari semuanya akan berakhir menjadi waste yang nantinya akan dipindahkan ke tempat sampah.

Ilustrasi Gundukan Sampah di sebuah Pasar. (Sumber: Copilot)

Bukan karena kita tidak bersyukur. Bukan pula karena kita tidak peduli. Kadang, kita hanya terbawa suasana seperti ingin menyambut buka puasa seistimewa mungkin, sampai lupa bahwa secukupnya jauh lebih bermakna daripada sebanyak-banyaknya.

Inilah paradoks Ramadan yang jarang kita bicarakan. Bulan yang mengajarkan pengendalian diri justru kerap menjadi musim di mana sampah makanan melonjak, kemasan plastik menumpuk, dan gaya hidup konsumtif menemukan pembenaran baru. Namun ada kabar baik: Kita bisa mengubah ini. Perubahan itu bisa dimulai dari langkah yang sangat sederhana.

Bumi Juga Berpuasa Bersama Kita

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat kenyataan yang mengejutkan: Sampah makanan di Indonesia meningkat hingga 10–20 persen selama bulan Ramadan dibandingkan bulan-bulan biasa. Di Surabaya, sampah yang masuk ke TPA Benowo melonjak 100–200 ton per hari. Di Bantargebang, peningkatannya bahkan bisa mencapai 50 persen. Sementara di kota-kota lain, sampah organik dari sisa sahur dan takjil mendominasi volume harian yang sudah cukup tinggi di hari-hari biasa.

Ini bukan sekadar soal kotor atau bersih. Sampah makanan yang membusuk menghasilkan gas metana, yaitu gas rumah kaca yang 25 kali lebih kuat memperparah pemanasan global dibandingkan karbon dioksida. Setiap nasi yang tersisa di piring, setiap ayam goreng yang tidak sempat dimakan, setiap es campur yang dibiarkan cair, semuanya punya jejak terhadap bumi yang kita tinggali bersama.

Ilustrasi beberapa kucing sedang menikmati makanan di satu tempat sampah. (Sumber: Copilot)

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil sampah makanan terbesar di dunia, dengan jumlah sampah makanan mencapai 20,9 juta ton per tahun (UNEP, 2021). Ini menempatkan Indonesia di posisi ke-8 dunia dan ke-1 di Asia Tenggara. Sampah makanan ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memiliki kerugian ekonomi yang signifikan, yaitu sekitar Rp 213-Rp 551 triliun per tahun. Ini bukan label yang ingin kita pertahankan, apalagi di bulan yang sejatinya mengajarkan kita untuk menahan diri.

Sampah makanan di Indonesia juga memiliki komposisi yang cukup besar, yaitu sekitar 39,41% dari total sampah nasional (SIPSN, 2022). Data ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah makanan masih perlu ditingkatkan. Dengan demikian, perlu adanya upaya serius dari pemerintah dan masyarakat untuk mengurangi sampah makanan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah yang baik (KLHK, 2022).

Ketika Layar Ponsel Lebih Menggoda daripada Tadarus

Di tengah semua itu, ada kekuatan lain yang bekerja diam-diam: algoritma digital. Persis saat adzan Maghrib berkumandang, notifikasi promo dari berbagai platform belanja daring menyerbu layar kita. Video kuliner yang berseliweran di media sosial membuat kita merasa menu berbuka di atas meja kurang lengkap, yang artinya kurang sempurna.

Para ulama tradisional menyebut bulan puasa sebagai waktu ketika godaan dibelenggu. Tapi setan algoritma, yang tahu betul kapan perut kita kosong dan emosi kita paling rentan, justru bekerja paling keras di momen ini. Kita pun belanja impulsif, kemasan plastik menumpuk, dan dompet menipis—sementara semangat berbagi yang sesungguhnya sering tertinggal di antara deretan notifikasi yang tak sempat kita baca.

Ramadan Hijau: Bukan Tren, Tapi Pilihan

Kabar baiknya, sudah banyak yang bergerak. Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta bersama KLHK telah menggalakkan konsep Ramadan Hijau atau Green Ramadan yang mengajak masyarakat menjadikan bulan puasa sebagai momentum nyata untuk hidup lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Di Jakarta, kampanye serupa berhasil menekan volume sampah hingga 15 persen dalam satu musim Ramadan. Bayangkan apa yang bisa kita capai bila langkah ini kita ikuti bersama-sama.

Ramadan Hijau bukan soal menjadi sempurna. Ia soal memilih sedikit lebih bijak, hari demi hari, mulai dari hal-hal yang sudah ada di depan kita.

Ilustrasi tumbukan sampah di suatu pusat perbelanjaan. (Sumber: Gemini Google)

Ramadan Hijau bukan sekadar tren sementara; ia menggabungkan ibadah dengan aksi nyata yang berdampak luas. Hemat makanan berarti menyelamatkan petani dari kerugian (sejalan SDG 2), kurangi sampah untuk udara lebih bersih (SDG 13), dan kendalikan belanja rakus agar dompet tetap aman.

Saat Lebaran tiba, kebiasaan ini jangan hilang begitu saja, usahakan bertahan sebagai gaya hidup baru. Tantangan terbesar memang disiplin di awal, tapi ingat, puasa itu ujian kesabaran. Mulai dari hal kecil: Hari ini buka puasa dengan semangkuk sayur sederhana, besok matikan ponsel selama satu jam. Sebulan kemudian, bumi akan berterima kasih, dan Tuhan pun meridhai.

Mulai dari Dapur Kita Sendiri

Perubahan terbesar sering dimulai dari tempat terkecil. Di dapur kita, misalnya. Cobalah membuat daftar menu sahur dan buka sesuai jumlah anggota keluarga, bukan berdasarkan lapar mata. Sisa makan malam bisa menjadi lauk sahur yang lezat dan ini bukan berhemat yang menyedihkan, ini adalah kearifan yang selama ini sudah ada dalam tradisi kita.

Untuk takjil, pilih yang sederhana: kurma, air putih, buah segar. Bukan karena kita tidak mampu membeli yang mewah, tapi karena yang sederhana justru lebih dekat dengan sunah dan lebih ramah bagi bumi. Bila ada sisa makanan yang masih layak, sedekahkan ke tetangga, ke masjid terdekat, atau ke mereka yang membutuhkan, sebuah praktik indah yang sejalan dengan semangat Badan Pangan Nasional melalui program Zero Waste Iftar.

Satu Jam Tanpa Ponsel, Seribu Ketenangan

Coba lakukan satu eksperimen kecil: matikan notifikasi ponsel dari waktu Maghrib hingga selesai Isya. Gantikan waktu itu dengan obrolan hangat bersama keluarga, tadarus bersama, atau sekadar duduk diam menikmati malam Ramadan yang sunyi. Anda mungkin akan terkejut dan betapa tenang rasanya ketika algoritma tidak lagi mengatur suasana hati kita.

Unfollow akun-akun yang memicu rasa iri atau hasrat belanja yang tidak perlu. Ikuti konten yang menginspirasi: tips memasak secukupnya, cara mengompos sisa makanan, atau kisah komunitas yang berbagi dengan sesama. Ramadan adalah momen detoks dan bukan hanya bagi tubuh, tetapi juga bagi pikiran dan layar kita.

Bersama Lebih Kuat: Gerakan di Tingkat RT dan RW

Ramadan Hijau akan terasa jauh lebih bermakna jika dilakukan bersama. Di tingkat RT atau RW, kita bisa membentuk posko sederhana untuk mengumpulkan sisa makanan layak konsumsi, lalu mendistribusikannya ke anak yatim atau warga yang membutuhkan. Di pasar takjil, kita bisa mulai membiasakan membawa tas belanja sendiri dan menolak kantong plastik sekali pakai.

Workshop kompos gratis yang diinisiasi Dinas Lingkungan Hidup di berbagai daerah adalah kesempatan nyata yang sayang untuk dilewatkan. Mengolah sisa makanan menjadi kompos bukan sekadar mengurangi sampah; ia mengubah sesuatu yang tadinya terbuang menjadi hadiah bagi tanah dan tanaman.

Bagikan cerita kecil ini di grup WhatsApp warga, bukan untuk pamer, tapi untuk saling mengingatkan. Karena perubahan yang datang dari dalam komunitas sendiri jauh lebih bertahan lama daripada yang datang dari kebijakan dari atas.

Puasa yang Melampaui Sebulan

Sesungguhnya yang paling indah dari Ramadan Hijau bukan apa yang kita lakukan selama 30 hari puasa, tetapi yang paling indah adalah apa yang tersisa setelahnya: kebiasaan memasak secukupnya yang kita bawa hingga Syawal dan seterusnya, ketenangan yang kita rasakan ketika ponsel tidak lagi mendominasi meja makan, dan kesadaran bahwa setiap tindakan kecil kita, sekecil apapun, punya dampak bagi orang lain dan bagi bumi.

SDG 12 PBB, yang menargetkan pengurangan food waste hingga 50 persen pada 2030, bukan sekadar dokumen di kantor pemerintahan. Ia bisa menjadi kenyataan yang dimulai dari piring makan kita malam ini.

Satu Langkah Kecil, Dimulai Malam Ini

Tidak perlu menunggu semuanya sempurna. Tidak perlu mengubah segalanya sekaligus. Mulailah dari malam ini: masak sedikit lebih sedikit dari biasanya, matikan ponsel selama satu jam, atau sekadar habiskan apa yang ada di piring.

Ramadan adalah anugerah yang langka. Ia datang sekali dalam setahun, membawa serta kesempatan untuk menjadi versi diri yang lebih baik—lebih sabar, lebih sadar, lebih peduli. Jangan biarkan kesempatan itu tenggelam di antara notifikasi promo dan tumpukan kemasan plastik.

Jadikanlah Ramadan tahun ini sebagai Ramadan Hijau. Bukan karena tren meminta kita. Tapi karena bumi yang kita tinggali ini adalah amanah, dan anak cucu kita berhak mewarisi sesuatu yang lebih baik dari yang kita terima.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |