Ramadhan: Momentum Berlomba-lomba dalam Kebaikan

2 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Fahmi Irfanudin (Dosen Komunikasi Penyiaran Islam, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

Bulan Ramadhan selalu menghadirkan lanskap spiritual yang berbeda bagi umat Islam. Ia bukan sekadar momentum ritual tahunan, melainkan musim perlombaan amal saleh yang atmosfernya begitu terasa. Masjid lebih ramai, sedekah meningkat, tilawah Alquran menggema, dan berbagai bentuk kebaikan tumbuh subur di tengah masyarakat.

Ramadhan seakan menjadi pengingat kolektif bahwa hidup bukan hanya tentang kompetisi duniawi, tetapi juga tentang seberapa jauh kita bersegera meraih kemuliaan di sisi Allah. Dalam konteks inilah, semangat fastabiqul khairat menemukan relevansinya bahwa setiap insan beriman sejatinya sedang berada di arena perlombaan menuju derajat takwa.

Umar bin Khathab RA pernah menuturkan sebuah peristiwa yang sarat pelajaran tentang makna berlomba dalam kebaikan sebagaimna disebutkan dalam hadis riwayat Tirmidzi. Suatu hari Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk bersedekah. Kebetulan saat itu Umar sedang memiliki kelapangan harta. Dalam hatinya terbersit keinginan untuk dapat melampaui Abu Bakar dalam beramal. Ia pun datang membawa separuh hartanya. Ketika Nabi bertanya apa yang ia sisakan bagi keluarganya, Umar menjawab bahwa ia meninggalkan jumlah harta yang sama.

Tak lama kemudian Abu Bakar datang dengan membawa seluruh hartanya. Saat ditanya apa yang ia tinggalkan untuk keluarganya, ia menjawab singkat namun penuh keyakinan, “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Mendengar itu, Umar pun mengakui bahwa dirinya tak pernah mampu mengungguli Abu Bakar.

Kisah tersebut menggambarkan hakikat musabaqah dalam urusan akhirat. Sebuah perlombaan yang bukan didorong ambisi duniawi, melainkan kerinduan meraih ridha Ilahi. Seruan fastabiqul khairat yang sering kita dengar sejatinya bukan sekadar slogan. Para ulama salaf memahaminya sebagai perintah untuk bersungguh-sungguh menjadi yang terdepan dalam kemuliaan.

Semangat terebut kontras dengan realitas sebagian generasi setelahnya. Persaingan justru lebih dominan terjadi dalam urusan dunia: harta, jabatan, dan kemegahan.

Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa istilah al-munāfasah (berlomba-lomba) dalam QS Al-Muthaffifin: 26 berasal dari kata nafīs yang berarti sesuatu yang sangat berharga dan bernilai tinggi. Maka, sangatlah tidak logis jika manusia mengerahkan seluruh energinya untuk memperebutkan dunia yang fana, sementara mengabaikan akhirat yang kekal.

Ramadhan bukan hanya bulan yang menghadirkan peluang pahala berlipat, tetapi juga menguji arah perlombaan hidup kita. Apakah kita masih sibuk mengejar prestise dunia, atau mulai menata langkah untuk menjadi pemenang di hadapan Allah.

Spirit para sahabat dan generasi salaf dalam berlomba meraih kebaikan seharusnya menjadi cermin refleksi selama bulan suci ini. Karena boleh jadi Ramadhan akan berlalu, tetapi jejak perlombaan amal yang kita torehkan di dalamnya itulah yang akan menentukan posisi kita kelak. Apakah sekadar peserta, atau benar-benar keluar sebagai pemenang.

Read Entire Article
Politics | | | |