Ramadhan: Ruang Perjumpaan Wahyu dan Keteladanan Nabi Muhammad

4 hours ago 5

Warga mengikuti kirab sekaten di kawasan Pisangan Timur, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Ahad (15/9/2024). Yayasan Al Khitoh Insani menggelar kegiatan kirab sekaten dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi yang diperingati setiap 12 Rabiul Awal tahun Hijriah. Kirab Sekanten dimaknai sebagian umat muslim sebagai metode penyebaran agama islam khususnya di Jawa Tengah pada era wali songo. Selain kirab Sekaten, yayasan tersebut juga menggelar kegiatan tausiah, tahlil, santunan anak yatim dan shalawatan yang diharapkan menjadi sarana untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan islam sekaligus meneladani akhlak Rasulullah SAW, menjalin silaturahmi juga meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ramadhan selalu menghadirkan kembali ingatan umat kepada sosok Nabi Muhammad ﷺ sebagai pusat keteladanan. Alquran menegaskan dalam QS. Al-Ahzab ayat 21, “Laqad kāna lakum fī rasūlillāhi uswatun ḥasanah…”, sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik.

Ayat ini bukan sekadar pujian, melainkan penegasan ilahiah bahwa jalan hidup beliau adalah kompas bagi siapa pun yang merindukan Allah dan hari akhir. Dalam suasana Ramadhan, teladan itu terasa semakin nyata: pada kesederhanaan sahur, kekhusyukan qiyam, dan kelembutan dalam memperlakukan sesama.

Kemuliaan pribadi Rasulullah ditegaskan pula dalam QS. Al-Qalam ayat 4, “Wa innaka la‘alā khuluqin ‘aẓīm”, sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung. Penegasan berlapis dalam ayat ini menunjukkan bahwa akhlak Nabi bukan sekadar keutamaan moral, melainkan fondasi peradaban.

Ramadhan, dengan puasa yang menahan lapar dan dahaga, sesungguhnya adalah madrasah akhlak. Dari sanalah kesabaran, empati, dan kejujuran tumbuh, meniru budi pekerti Rasul yang agung.

Alquran juga menempatkan Nabi Muhammad ﷺ sebagai rahmat universal. Dalam QS. Al-Anbiya ayat 107 ditegaskan, “Wa mā arsalnāka illā raḥmatan lil-‘ālamīn.” Tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Kata “al-‘ālamīn” merangkum keluasan misi beliau, melintasi batas suku, bangsa, dan zaman. Di bulan Ramadhan, nilai rahmat itu menemukan panggungnya: tangan-tangan yang berbagi, doa-doa yang mengalir bagi sesama, serta hati yang belajar memaafkan.

Identitas kerasulan Nabi ditegaskan kembali dalam QS. Al-Fath ayat 29: “Muḥammadur rasūlullāh…” Muhammad adalah utusan Allah. Ayat ini menggambarkan komunitas beliau sebagai sosok-sosok yang tegas terhadap kezaliman namun penuh kasih di antara mereka, serta tekun rukuk dan sujud mencari ridha-Nya. Gambaran itu seakan hidup dalam malam-malam Ramadhan, ketika saf-saf shalat tarawih memanjang dan doa-doa terangkat dalam hening yang syahdu.

Sementara itu, QS. Al-Ahzab ayat 40 menegaskan posisi beliau sebagai “khātam an-nabiyyīn”—penutup para nabi. Risalah yang dibawanya adalah penegasan akhir dari rangkaian kenabian, dan Alquran menjadi mukjizat yang terjaga sepanjang zaman.

Read Entire Article
Politics | | | |