REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketegangan di Teluk Arab meningkat seiring Iran mengungkap taktik pertahanan baru yang mengandalkan ranjau canggih dan sistem terintegrasi, sementara upaya pemulihan fasilitas militer pasca-serangan menunjukkan prioritas strategis Teheran di tengah ancaman eskalasi.
Teluk Arab, dengan geografinya yang sempit dan kepadatan lalu lintas maritim yang tinggi, telah lama menjadi titik strategis dalam perhitungan militer Iran. Kini, Angkatan Laut Iran secara terbuka mengungkapkan pendekatan baru dalam memanfaatkan kondisi geografis ini sebagai keunggulan taktis.
Kantor Berita Fars melaporkan bahwa Iran telah mengembangkan sistem peletakan ranjau yang terintegrasi dengan berbagai metode pencegahan lainnya. Bukan sekadar penempatan ranjau konvensional, taktik ini melibatkan jaringan pemantauan kompleks yang menghubungkan radar pantai, drone, sistem elektronik, dan sensor bawah air untuk menciptakan gambaran operasional yang akurat.
Konsep operasional ini dirancang untuk mengubah setiap ancaman maritim menjadi krisis yang berdampak global, mengingat Selat Hormuz menjadi jalur vital bagi sekitar sepertiga pengiriman minyak dunia. Strategi ini mencerminkan doktrin pertahanan asimetris Iran: mengimbangi kesenjangan teknologi dan kekuatan konvensional dengan taktik yang memanfaatkan keunggulan geografis dan pengetahuan lokal.
Ranjau: Dari Konvensional hingga Pintar
Kemampuan ranjau laut Iran telah berkembang jauh melampaui model-model konvensional. Menurut pengungkapan yang dilaporkan Fars, arsenal Iran kini mencakup berbagai jenis ranjau dengan tingkat kecanggihan berbeda:
Ranjau cangkang seperti Sadaf-2, ranjau tetap untuk area-area tertentu, hingga generasi terbaru ranjau pintar yang dilengkapi sensor akustik, magnetik, dan hidrodinamik. Teknologi sensor ini dirancang untuk meningkatkan akurasi penargetan sekaligus mengurangi risiko aktivasi yang tidak disengaja, sebuah upaya untuk meminimalkan insiden terhadap kapal sipil.
Model-model canggih seperti Nafez-2 dan Arvand disebutkan memiliki peningkatan mobilitas dan kemampuan kejutan. Ranjau perayap bergerak, misalnya, memberikan fleksibilitas taktis yang tidak dimiliki ranjau statis tradisional, sebagaimana diberitakan Al Jazeera dan Asharq al Awsath.
Yang menarik dari pengungkapan ini adalah penekanan pada integrasi. Ranjau tidak dirancang untuk bekerja sendiri, melainkan sebagai bagian dari sistem pertahanan berlapis yang melibatkan rudal pantai, perahu cepat, drone, dan peperangan elektronik. Pendekatan ini bertujuan menciptakan medan pertempuran yang kompleks dan tidak dapat diprediksi, memaksa kapal musuh untuk memperlambat laju atau mengubah rute, sehingga menjadi lebih rentan terhadap serangan dari platform lain.
Taktik Ranjau
Pengungkapan taktik ranjau ini datang bersamaan dengan pernyataan tegas dari pimpinan militer Iran. Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi, Kepala Staf Angkatan Darat Iran, menyatakan bahwa seluruh angkatan bersenjata "siap menanggapi setiap agresi atau kesalahan perhitungan musuh dengan respons yang tegas dan segera."
"Musuh-musuh kita tahu betul bahwa setiap upaya untuk memicu perang terhadap kita akan menyebabkan kerugian strategis bagi mereka dan meluasnya perang di seluruh wilayah," ujar Mousavi, sambil menegaskan, "Kita tidak akan memulai perang, tetapi kita tidak akan ragu untuk membela keamanan nasional kita."
Pernyataan ini mengandung dua pesan sekaligus: pencegahan dan peringatan. Di satu sisi, Iran menekankan bahwa mereka tidak mencari konfrontasi. Di sisi lain, ada sinyal bahwa setiap serangan, bahkan yang terbatas, akan dibalas dengan respons yang komprehensif dan berpotensi menyeret kawasan ke dalam konflik lebih luas.
Retorika semacam ini bukanlah hal baru dalam diplomasi Iran, namun konteksnya yang semakin intens, dengan kehadiran militer AS di kawasan dan tekanan dari Israel, memberikan bobot tambahan pada pernyataan tersebut.
Mengutamakan Rudal
Sementara retorika militer meningkat, analisis citra satelit oleh New York Times mengungkap pilihan strategis Iran pasca-serangan Israel dan AS tahun lalu. Data menunjukkan perbedaan signifikan dalam kecepatan pemulihan berbagai fasilitas: instalasi rudal diprioritaskan di atas fasilitas nuklir.
Dari sekitar 24 lokasi yang menjadi sasaran selama konflik Juni 2025, lebih dari setengahnya menunjukkan aktivitas konstruksi aktif. Fasilitas pengujian rudal Shahroud, misalnya, kembali beroperasi dalam hitungan bulan—kecepatan yang mencerminkan urgensi tinggi.
Sebaliknya, kompleks pengayaan utama di Isfahan, Natanz, dan Fordow masih belum beroperasi penuh. Meskipun ada upaya perbaikan dan penguatan, termasuk pembangunan atap putih besar yang diduga untuk menyembunyikan aktivitas dari pengawasan udara, kemajuannya jauh lebih lambat dibandingkan fasilitas rudal.
Prioritas ini mengungkap kalkulasi strategis Tehran: dalam jangka pendek, kemampuan rudal balistik dianggap sebagai pencegah utama yang paling efektif. Para ahli yang dikutip Times percaya bahwa penguatan arsenal rudal adalah cara Iran melindungi aset nuklirnya dari serangan masa depan—sebuah konsep "pertahanan berlapis" di mana kemampuan rudal menjadi perisai bagi program nuklir.
Antisipasi Serangan
Salah satu perkembangan paling menarik perhatian adalah pembangunan ruang silinder raksasa sepanjang 150 kaki di kompleks militer Parchin. Fasilitas ini, menurut para analis, memiliki kepentingan strategis meski tujuan pastinya belum jelas.
Parchin sebelumnya dikenal sebagai lokasi uji coba bahan peledak yang terkait dengan pemicu hulu ledak nuklir. Kehadiran struktur baru ini menimbulkan spekulasi: apakah ini bagian dari upaya pengembangan senjata, atau infrastruktur defensif untuk melindungi aset strategis?
Di situs lain seperti Isfahan, pengamatan satelit menangkap aktivitas seperti pengisian pintu masuk terowongan dengan tanah baru. Para ahli menafsirkan ini sebagai kemungkinan antisipasi terhadap serangan yang akan datang, atau upaya mengamankan material bernilai tinggi.
Laporan intelijen yang dikutip Times menyebutkan bahwa uranium yang sangat diperkaya masih terkubur di tiga lokasi yang dibom, tanpa indikasi kuat pemindahan. Fakta ini menunjukkan bahwa meskipun program nuklir Iran mengalami "pukulan berat" menurut penilaian Gedung Putih, aset-aset dasarnya tetap utuh dan berpotensi dihidupkan kembali.
Eskalasi militer ini terjadi dalam konteks tekanan politik dan ekonomi yang semakin intensif. Akhir Desember lalu, demonstrasi massa meletus di Iran sebagai protes terhadap memburuknya kondisi ekonomi dan kehidupan, situasi yang diperparah oleh sanksi internasional yang berkepanjangan.
Iran meyakini bahwa Amerika Serikat, melalui kombinasi sanksi ekonomi, tekanan diplomatik, dan penghasutan kerusuhan internal, berupaya menciptakan dalih untuk intervensi asing yang bertujuan menggulingkan rezim. Narasi ini menjadi bagian dari retorika domestik Tehran untuk memobilisasi dukungan dan melegitimasi postur pertahanan yang agresif.
Di sisi lain, pengerahan pasukan AS di kawasan dan ancaman tindakan militer baru dari Presiden Donald Trump menciptakan dinamika yang saling memperkuat: tekanan eksternal memperkuat narasi ancaman Iran, sementara retorika dan persiapan militer Iran memberikan justifikasi bagi kehadiran militer AS dan sekutunya.
Pencegahan atau Eskalasi?
Pengungkapan taktik ranjau, pernyataan kesiapan militer, dan prioritas pemulihan fasilitas rudal semuanya menunjuk pada satu strategi inti: pencegahan melalui penguatan kemampuan defensif-ofensif yang kredibel.
Iran memahami bahwa dalam konflik konvensional langsung dengan AS atau Israel, mereka berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Oleh karena itu, strategi asimetris, ranjau laut, rudal balistik, peperangan elektronik, dan taktik swarm menggunakan perahu cepat, menjadi penyeimbang.
Namun, strategi pencegahan ini mengandung paradoks: semakin kredibel ancaman Iran, semakin besar tekanan pada pihak lawan untuk melakukan serangan preventif sebelum kemampuan tersebut sepenuhnya operasional. Ini menciptakan risiko kesalahan perhitungan yang bisa memicu konflik yang sebenarnya tidak diinginkan kedua belah pihak.
Pertanyaan krusialnya adalah apakah postur militer yang agresif ini akan berhasil mencegah konflik, atau justru menurunkan ambang batas untuk eskalasi yang tidak terkendali.
Analisis satelit menunjukkan bahwa Iran "berpacu dengan waktu" untuk memperkuat fasilitas bawah tanahnya yang paling vital. Upaya penguatan pintu masuk terowongan di situs seperti Jabal al-Mawal dekat Natanz mencerminkan urgенsi ini.
Meskipun program nuklir Iran telah mengalami kemunduran signifikan, penilaian menyimpulkan bahwa aset-aset dasar masih ada dan program dapat dihidupkan kembali. Ini membuka "semua kemungkinan" menurut Times, baik skenario negosiasi diplomatik maupun eskalasi militer.
Dalam jangka pendek, dinamika di Teluk Arab akan sangat bergantung pada tiga faktor: seberapa cepat Iran dapat memulihkan dan memperkuat kemampuan militernya, seberapa jauh AS dan Israel bersedia meningkatkan tekanan, dan apakah ada ruang untuk kesepakatan politik komprehensif yang dapat mengakhiri siklus ketegangan ini.
Yang jelas, pengungkapan taktik ranjau dan percepatan pemulihan fasilitas militer menunjukkan bahwa Tehran mempersiapkan diri untuk berbagai kemungkinan, termasuk yang terburuk. Apakah persiapan ini akan mencegah konflik atau justru mempercepat kedatangannya, hanya waktu yang akan menjawab.

2 hours ago
1















































