REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pangan Nasional (Bapanas) menjangkau lebih dari 35 juta keluarga penerima manfaat (KPM) melalui program bantuan pangan sepanjang 2025. Program bantuan pangan tersebut merupakan bagian dari stimulus ekonomi pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat dan menopang konsumsi rumah tangga.
Bapanas menugaskan Perum Bulog untuk menyalurkan bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng dalam dua tahap stimulus ekonomi kuartalan. Program ini diarahkan guna memastikan akses pangan pokok tetap terjangkau, khususnya bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah.
Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menegaskan stabilitas pangan menjadi prasyarat utama dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional dan daya beli masyarakat.
“Ingat, kalau pangan bermasalah, negara bermasalah. Sesuai perintah Bapak Presiden, kita stabilkan harga. Kita jaga harga pangan sampai Ramadan selesai. Fokus kita sekarang memastikan stabilisasi harga agar daya beli masyarakat tetap terjaga,” kata Amran di Jakarta, dikutip Sabtu (7/2/2026) lalu.
Sepanjang 2025, bantuan pangan disalurkan dalam dua tahap. Pada stimulus ekonomi kuartal III, pemerintah menyalurkan bantuan pangan berupa beras 20 kilogram per KPM untuk alokasi dua bulan. Realisasi penyaluran hingga November 2025 menjangkau lebih dari 18 juta KPM di seluruh Indonesia dengan anggaran Rp 4,97 triliun.
Program tersebut berlanjut pada stimulus ekonomi kuartal IV 2025 dengan penambahan komoditas minyak goreng. Paket bantuan terdiri atas beras 20 kilogram dan MinyaKita 4 liter per KPM untuk alokasi dua bulan. Hingga akhir Desember 2025, realisasi penyaluran menjangkau lebih dari 17 juta KPM dengan total anggaran sekitar Rp 6,5 triliun.
Amran memastikan intervensi pangan tidak berhenti pada 2025 dan akan diperluas pada awal 2026 seiring kebutuhan menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan nasional.
“Dalam rangka menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, Badan Pangan Nasional melaksanakan langkah strategis, salah satunya penyaluran bantuan pangan berupa 10 kilogram beras dan 2 liter MinyaKita selama dua bulan kepada 33,2 juta KPM,” ujar tokoh yang juga menjabat Menteri Pertanian tersebut.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama perekonomian nasional. Konsumsi rumah tangga berkontribusi 53,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan tumbuh 4,98 persen sepanjang 2025 seiring terjaganya daya beli masyarakat.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan ketersediaan pasokan pangan yang memadai turut memperkuat efektivitas program bantuan pangan. Produksi beras nasional sepanjang Januari hingga Desember 2025 tercatat mencapai 34,69 juta ton atau meningkat 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
BPS juga memproyeksikan potensi produksi beras pada Januari hingga Maret 2026 mencapai 10,16 juta ton atau naik 15,79 persen secara tahunan. Peningkatan produksi tersebut ditopang kondisi pertanaman padi yang kondusif di sejumlah sentra produksi nasional.

2 hours ago
3















































