loading...
Eddy Koko, Penikmat Siaran Radio. Foto/Ist
Eddy Koko
Penikmat Siaran Radio
PAGI, 20 Januari 1949, kabut tebal menyelimuti kawasan Balong dan Karangpandan di lereng Gunung Lawu, wilayah Kadipaten Karanganyar, Jawa Tengah. Pada sebuah perimeter yang hanya berjarak satu kilometer dari markas patroli tentara Belanda, beberapa pria berbadan kurus sibuk mengendap-endap.
Di bawah ancaman moncong senjata musuh, mereka membopong besi seberat 1,5 ton. Tidak ada dentuman meriam dalam operasi ini, namun di atas pundak mereka, nasib kedaulatan sebuah republik sedang dipertaruhkan.

Foto/Ist
Besi tua itu adalah sebuah pemancar radio. Satu-satunya 'nyawa' penyiaran Republik Indonesia yang tersisa setelah seluruh pemancar di Tawangmangu jatuh ke tangan Belanda dalam Agresi Militer II pada akhir Desember 1948.
Di bawah komando Raden Maladi (Kepala RRI yang ditunjuk Gubernur Militer Gatot Subroto menjadi Pemimpin Staf Penerangan Gubernur Militer II/GM II), pemancar tersebut dievakuasi secara nekat dari Desa Puntukrejo.
Dibantu tim Terlab di bawah Jawatan Pos, Telegraaf & Telefon (PTT), Letnan II Damanik dari Inspektorat Perhubungan, serta para anggota Tentara Pelajar, perangkat vital seberat 1,5 ton itu digotong menyusuri jalan setapak pegunungan sejauh 10 kilometer. Yaitu menuju markas persembunyian baru, yaitu Desa Balong, sebuah wilayah terpencil di lereng Gunung Lawu yang menjadi Pusat Pimpinan Divisi II.
Sejak pemancar-pemancar utama Republik dihancurkan atau dikuasai Belanda pada 19 Desember 1948, opini dunia digiring oleh narasi tunggal, Indonesia sudah tamat dan TNI musnah. Maladi dan regunya paham betul bahwa perlawanan senjata tidak akan cukup tanpa perang informasi.
"Dengan hilangnya pemancar-pemancar Republik sejak tanggal 19 Desember 1948, maka lenyap pula suara dari Republik ke luar negeri. Oleh karena itu usaha yang pertama harus ditujukan ke arah persiapan sebuah pemancar yang kuat." Begitu menurut Maladi (Laporan Staf GM II/MBKD)
Berdasarkan instruksi Markas Besar Komando Djawa (MBKD) No. 1, Maladi menarik 20 pegawai RRI dari Kota Solo, terdiri dari tenaga teknik, siaran, redaksi, luisterdienst (pemantau radio), hingga administrasi, untuk mengoperasikan stasiun gerilya.
Namun, mengudara dari dalam hutan bukan perkara gampang. Untuk menghidupkan stasiun radio, Mayor Suhardi dari Corps Perhubungan memimpin pengerjaan pembangkit listrik (electrische centrale). Mereka memboyong sebuah dinamo raksasa seberat 5 ton dari onderneming Rejowinangun, menempuh jarak 15 kilometer menembus medan sulit.
Menembus Udara Dunia
Rangkaian perjuangan ini mengukir sejarah dramatis di medan gerilya. Semuanya bermula pada 20 Januari 1949, ketika tim pemberani melancarkan operasi nekat evakuasi pemancar 1,5 ton dari Puntukrejo, menembus garis patroli Belanda menuju Desa Balong.


















































