Saat Sampah Meluber ke Jalan, Warga Jakarta Hidup dalam Bayang Penyakit

4 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pagi di Pulogebang tidak lagi hanya tentang lalu lintas yang mulai padat atau deru motor yang berkejaran dengan waktu. Ada bau yang datang lebih dulu, menyelinap pelan, lalu menetap di udara. Bau yang tidak bisa diabaikan. Bau yang membuat orang refleks menutup hidung, bahkan sebelum mereka benar-benar menyadarinya.

Di sisi jalan, tumpukan sampah menggunung. Ia meluber dari ruang yang seharusnya menampungnya, lalu menjalar ke bahu jalan, seolah ingin ikut hadir dalam kehidupan warga. Lalat beterbangan, tikus sesekali terlihat, dan kekhawatiran pelan-pelan tumbuh menjadi kegelisahan yang nyata.

Jayadi, seorang warga, menatap tumpukan itu dengan nada yang tidak lagi sekadar mengeluh, tetapi hampir menyerah. Baginya, sampah bukan hanya soal kotor atau bau, melainkan ancaman yang tak kasatmata. Penyakit, dari demam berdarah hingga diare, terasa seperti bayangan yang setiap saat bisa menjadi kenyataan.

Keluhan serupa datang dari mereka yang hanya melintas. Sunaryo, pengendara sepeda motor, mengaku setiap melewati jalan itu harus menahan napas. Bau yang menembus masker membuat perjalanan singkat terasa lebih panjang dari biasanya.

Namun, kisah sampah di kota ini tidak berhenti pada satu titik. Ia terhubung dengan sesuatu yang lebih besar, sebuah sistem yang sedang kelelahan. Pembatasan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang membuat arus sampah tersendat. Truk-truk pengangkut datang lebih jarang, dan tumpukan pun menjadi konsekuensi yang tak terelakkan.

Di balik semua itu, Jakarta sebenarnya sedang menghadapi angka yang sulit diabaikan, lebih dari 7.000 ton sampah dihasilkan setiap hari. Angka yang, jika dibayangkan, bukan sekadar statistik, melainkan gunungan yang terus bertambah, hari demi hari.

Ketergantungan pada Bantargebang kini seperti jalan buntu yang perlahan disadari semua pihak. DPRD DKI Jakarta pun mulai merumuskan langkah baru melalui pembentukan panitia khusus pengelolaan sampah. Harapannya sederhana, tetapi berat, menghadirkan sistem yang tidak lagi bertumpu pada satu titik akhir.

Di ruang rapat yang jauh dari bau menyengat itu, wacana tentang pengurangan sampah dari sumber, peningkatan daur ulang, hingga pembangunan fasilitas modern mulai disusun. Sebuah upaya untuk mengubah cara kota memperlakukan sampahnya, dari sekadar membuang menjadi mengelola.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |