Orang-orang duduk di dekat telepon yang terhubung ke soket listrik di luar apotek yang tutup di tengah pertempuran yang sedang berlangsung antara Israel dan gerakan Hamas Palestina di Rafah di Jalur Gaza selatan pada Jumat (20/10/2023)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Satu-satunya pembangkit listrik di Jalur Gaza diperkirakan segera kembali beroperasi setelah terhenti lebih dari dua tahun akibat agresi Israel dan blokade berkepanjangan. Hal itu dikatakan Ketua Komite Nasional Pengelolaan Gaza, Sabtu (24/1/2026).
“Kepada rakyat Jalur Gaza, kami menyampaikan kabar baik bahwa telah ada kepastian dan kesiapan bagi pembangkit listrik untuk kembali beroperasi,” ujar Ali Shaath melalui unggahan di media sosial Facebook.
Ia menambahkan, selain menjajaki kerja sama dengan pihak internasional terkait pengembangan energi surya, pihaknya juga tengah berkoordinasi dengan penyedia listrik guna memulihkan pasokan listrik secepat mungkin.
Namun demikian, Shaath belum merinci mekanisme pemulihan listrik, tahapan teknis yang akan ditempuh, maupun jadwal pasti dimulainya kembali operasional pembangkit tersebut.
Sejak agresi Israel dimulai pada Oktober 2023, pasokan listrik ke Gaza dihentikan. Masuknya bahan bakar yang dibutuhkan untuk mengoperasikan pembangkit listrik juga diblokade, meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober tahun lalu.
Sebelum agresi tersebut, ketersediaan listrik di Jalur Gaza diperkirakan hanya sekitar 212 megawatt, atau kurang dari separuh kebutuhan sekitar 500 megawatt untuk memastikan pasokan listrik selama 24 jam.
Krisis listrik telah menimbulkan dampak luas di seluruh wilayah Jalur Gaza, terutama terhadap layanan vital, termasuk rumah sakit dan fasilitas kesehatan.
Selama lebih dari dua tahun konflik, Israel juga dilaporkan menargetkan infrastruktur kelistrikan Gaza. Kantor Media Gaza mencatat sekitar 5.080 kilometer jaringan listrik serta 2.285 trafo distribusi listrik—baik di atas maupun di bawah tanah—mengalami kerusakan.
Total kerugian sektor kelistrikan Gaza diperkirakan mencapai sekitar 1,4 miliar dolar AS atau setara Rp23,2 triliun.
sumber : ANTARA

2 hours ago
2














































