Singkirkan Duri dari Jalan, Salah Satu Cabang Iman

19 hours ago 6

ILUSTRASI Orang beriman.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nabi Muhammad SAW bersabda, "Iman terdiri atas 70 bagian. Yang tertinggi adalah laa ilaaha illa Allah. Yang terendah adalah menyingkirkan duri dari jalan."

Hadis itu maknanya mencakup hablu min Allah (hubungan terhadap Rabb) dan hablu min al-nas (hubungan ke sesama manusia). Hubungan keduanya berarti tidak terpisahkan.

Seseorang sulit mempunyai keimanan yang teguh jika pada dirinya hanya ada salah satunya. Konkretnya, Islam tidak menghendaki seseorang tekun beribadah tetapi sering menyakiti teman atau tetangganya. Sebaliknya, Islam juga tidak menginginkan seseorang sangat dermawan kepada sesama tapi tidak shalat dan puasa Ramadhan misalnya.

Dengan begitu, refleksi iman selain pada kerajinan beribadah (ibadah mahdloh) juga pada sikap sosial. Keduanya harus berjalan beriringan. Dalam hadis di atas adalah termasuk menyingkirkan duri di jalan. Menyingkirkan duri bisa juga dimaknai secara simbolik. Maknanya adalah memudahkan orang untuk lewat. Atau, agar orang yang lewat tidak celaka.

Sayangnya, kita umat Islam sering tidak menyadari tentang hal ini. Kita, misalnya, masih sering menyaksikan di berbagai pinggir dan sudut jalan terdapat kios-kios kaki lima yang menjual dagangannya. Akibatnya, jalan yang semula lebar menjadi sempit, yang mengakibatkan kemacetan panjang. Jadi, alih-alih kita melapangkan jalan orang lain, malah kita justru menyulitkan perjalanan mereka.

Contoh-contoh lain tentu masih banyak. Intinya, keimanan kita belum terefleksikan dalam kehidupan nyata. Orang yang imannya benar seharusnya terpancar dalam perilaku sehari-harinya. Misalnya dengan ringan tangan membantu orang lain. Kalaupun belum bisa membantu, maka cukuplah dengan tidak membuat susah orang lain.

Seharusnya orang Islam itu, terutama mereka yang mengaku sebagai pemimpin, menjadi penyingkir-penyingkir duri buat kepentingan orang banyak. Mereka semestinya melapangkan jalan agar rakyat atau masyarakat banyak bisa hidup lebih sejahtera.

sumber : Hikmah Republika oleh Moh Yani Zamzam

Read Entire Article
Politics | | | |