REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Dwi Utami (Dosen Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)
Tumpukan sampah di Bantar Gebang yang melumat hingga merenggut korban jiwa belakangan ini seakan membuat kita mau tak mau berpikir kembali. Tumpukan sampah yang menggunung dan penuh limbah jelas berpotensi mencemari lingkungan. Selama ini, banyak dari kita mungkin percaya bahwa pencemaran lingkungan hanya akibat industrialisasi dan penggunaaan plastik sekali pakai.
Namun, sumber pencemaran lain ternyata hampir tidak pernah disadari: sisa obat rumah tangga. Obat yang kita buang di tempat sampah, wastafel rumah, atau saluran air langsung menghantarkan zat aktif farmasi ke alam lain.
Tanpa disadari, masalah kecil ini akan menjadi besar sebagai masalah lingkungan. Kemudahan akses literasi kesehatan dan akses obat memberikan peningkatan kemampuan pada masyarakat untuk melakukan swamedikasi. Sebagai konsekuensinya, masyarakat juga akan menyimpan obat di rumah untuk kebutuhan sementara. Menurut data, 79 persen dari masyarakat Indonesia memilih pengobatan sendiri untuk keluhan penyakit ringan.
Setiap tumah tangga akan memiliki stok obat flu, obat pereda nyeri, vitamin, dan suplemen. Hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia, studi mengungkapkan ribuan rumah tangga di negara-negara hampir 77 persennya menyimpan obat di rumah. Bahkan, kalau kita tengok, bias jadi satu rumah tangga memiliki lebih dari sepuluh jenis obat.
Hal yang tidak kalah penting untuk kita sadari, obat bukanlah sampah biasa.
Obat merupakan jenis sampah mengandung zat aktif dengan efek farmakologi tertentu. Jika dibuang sebagaimana sampah biasa, maka zat aktif ini akan menyusup maupun melarut ke tanah dan air. Tidak mengherankan, saat ini residu obat bahkan telah ditemukan di sungai-sungai dan badan air di banyak negara. Walaupun kadarnya kecil, paparan jangka panjang residu farmasi tetap membahayakan kesehatan lingkungan. Salah satu dampak paling sering kita dengar adalah resistensi antibiotik.
Antibiotik yang terbuang ke lingkungan mampu mengubah mikroorganisme tersebut, yang kemudian memancarkan bakteri yang semakin kebal. Bakteri yang semakin kebal tersebut kemudian menemukan cara bagaimana obat tersebut dihancurkan atau tidak diberikan kesempatan untuk merusak bakteri tersebut. Jika hal ini tidak diselamatkan, efek antibiotik akan semakin kebal.
Maka resistensi antibiotik menjadi ancaman global dalam pengobatan berbagai penyakit infeksi lingkungan. Menjadi catatan kita, bahwa mestinya keluarga sebagai pengguna pertama bertanggung jawab mengenai pengelolaan obat di rumah.
Hal yang sanggup dilakukan supaya tak semakin menumpuknya limbah obat adalah: 1. Biasakan cek tanggal kadaluarsa obat secara rutin. 2. Gunakan obat antibiotik hanya sesuai resep dan tidak disimpan untuk stok pribadi. 3. Sebelum membuang, obat dipisahkan dulu dari kemasan asli. Tablet atau kapsul dihancurkan terlebih dahulu, kemudian campurkan dengan bahan yang menyerap seperti: ampas kopi, tanah, atau sampah organik lainnya, kemudian masukkan ke dalam kantong sampah tertutup. Tentunya cara sederhana seperti ini dapat mengurangi penyalahgunaan bahkan mencegah obat masuk kembali ke lingkungan. Informasi ini penting disosialisasikan dengan program DAGUSIBU sebagai konsep edukasi IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) tentang pengelolaan obat yang baik dan benar.
Beberapa negara telah memberlakukan program pengembalian obat kedaluwarsa melalui apotek atau fasilitas kesehatan. Masyarakat dapat memberikan obat yang tak lagi terpakai yang akan dimusnahkan secara aman. BPOM sejak tahun 2019 menggagas Program Ayo Buang Sampah Obat (ABSO) untuk pengelolaan obat kadaluarsa keluarga di dropbox layanan kesehatan milik mitra Apotek/Rumah sakit/Puskesmas yang ditunjuk.
Meskipun program tersebut belum banyak dikenal masyarakat, meningkatkan kesadaran untuk mengelola obat secara bijak adalah langkah awal yang baik. Akhirnya, menaruh lingkungan tidak harus selalu melibatkan tindakan besar.
Mengelola sisa-sisa obat di rumah dengan benar adalah tanggung jawab bersama. Membuang satu tablet bisa jadi terlihat tidak banyak. Tapi jika jutaan rumah tangga melakukannya, dampaknya akan sangat besar. Mulailah dengan peduli lingkungan dari hal-hal kecil yaitu cara kita memperhatikan sisa-sisa obat di rumah.

8 hours ago
8
















































