Siswa dan Guru SMAN 1 Padalarang Umrah Gratis Berkat Infak Sehari Rp500

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Sebuah momen penuh haru dan bahagia siswa dan guru SMAN 1 Padalarang di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat viral di media sosial. Ternyata, momen itu terjadi usai satu siswa dan satu guru diberangkatkan ke Tanah Suci untuk menjalankan ibadah umrah secara gratis. 

Dalam unggahan yang beredar, terabadikan momen bahagia dan haru ketika seorang siswa bersujud setelah namanya disebut sebagai pemenang beasiswa umrah. Luar biasanya lagi, keberangkatan mereka ke Tanah Suci Mekkah itu didanai dari program Infak Umrah dengan menyisihkan Rp500 untuk siswa dan Rp1.000 tenaga kependidikan setiap hari.

Kepala SMAN 1 Padalarang, Lina, mengatakan beasiswa umrah untuk siswa dan guru merupakan program yang sudah berjalan tiga tahun belakangan. Sudah empat siswa dan tiga guru yang berhasil menginjakkan kaki di tanah suci berkat program tersebut. 

"Ya betul, jadi memang ini program di sekolah kami, beasiswa umrah. Tapi kalau nama resminya Infaq Umrah SMAN 1 Padalarang. Tahun ini 1 siswa dan 1 guru yang berangkat," kata Lina saat dikonfirmasi, Senin (14/9/2026).

Program Infak Umrah itu sudah berjalan sejak tahun 2023 ketika Lina ditugaskan menjadi Kepala SMAN 1 Padalarang. Lina menjalankan program serupa sejak memimpin SMAN 2 Lembang. Namun besaran infak itu di SMAN 2 Lembang dengan SMAN 1 Padalarang berbeda. 

"Jadi awalnya di SMAN 2 Lembang, itu saya menjalankan program ini melanjutkan kebiasaan siswa infaq Rp2.000 per hari. Di sana, program ini memberangkatkan tiga angkatan, dari 2020 sampai 2023. Kemudian dilanjutkan di sini, memang nominalnya lebih kecil karena menyesuaikan ya, Rp500 per siswa. Alhamdulillah sudah berjalan tiga tahun juga," kata Lina. 

Namun sebelum program infak itu berjalan, ia tentunya terlebih dahulu membahasnya dengan semua tenaga pendidik SMAN 1 Padalarang hingga persetujuan siswa dan orangtuanya, lalu guru. Hal itu dilakukannya agar ada kesamaan persepsi bahwa Infaq Umrah SMAN 1 Padalarang ini bukan pungutan yang memaksa dan membebani siswa dsn orangtuanya. 

"Setelah hasil rapat dengan orangtua siswa dan guru, kita sepakat melaksanakan program ini. Saya tidak mau juga ada kesan ini pungutan, sehingga ini kami tekankan untuk kedisiplinan, gotong royong, komitmen, dan ini suatu hal yang sangat posiitif," kata Lina. 

Pemilihan siswa dan guru yang akan diberangkatkan ke Tanah Suci Mekkah dan Madinah, tak sesederhana lewat skema undian atau penunjukkan langsung. Tapi melewati beragam tahapan seleksi baik untuk siswa maupun guru. 

"Ada seleksi tahfiz Alquran. Anak-anak yang lolos itu adalah mereka yang sudah melalui seleksi mulai dari perilaku oleh guru BK pasti yang tidak ada catatan pelanggaran, lalu masuk seleksi tahfiz, hafalan, tajwid, sambung ayat," terang Lina. 

Semua siswa menjalani seleksi oleh guru mata pelajaran. Kemudian hasil seleksi akan menjaring siswa-siswa dengan perolehan penilaian paling baik. Setelah mengerucut, akan dilanjutkan dengan tes munaqosah atau ujian akhir untuk mengukur kemampuan, pemahaman, dan hapalan siswa. 

"Tes munaqosah ini langsung di depan warga sekolah. Jadi dari 16 siswa hasil seleksi, semua tampil di depan umum. Ini juga sama untuk guru, tapi pengujinya itu kita bawa ustaz dari luar supaya tidak ada subjektifitas. Kalau guru itu hanya juz 30 ujiannya," kata Lina. 

Pada periode kali ini, siswa yang berhasil keluar sebagai pemenang beasiswa umrah SMAN 1 Padalarang ialah Asy Syakira Pratama Putri Jasuma, siswi kelas XII-9. "Jadi nanti dia akan berangkat Insy Allah di bulan Oktober, tapi kalau ada informasi kuota tambahan bisa saja di bulan September. Semua biaya, mulai dari tiket pesawat, akomodasi, pembuatan paspor, sampai uang saku sudah ditanggung sekolah. Sekitar Rp30 jutaan," kata Lina. 

Terakhir, Lina berharap program rutin yang dilaksanakan menjadi jembatan pembentukan karakter siswa yang baik dan santun selaras dengan Gapura Panca Waluya yang digaungkan Gubernur Jawa Barat. "Ya harapannya output anak-anak itu, bisa mendoakan seluruh waraga sekolah, itu hal yang tidak ternilai. Mereka kan berangkat hasil gotong royong, jadi ada efek positiflah buat dirinya, temannya, lingkungannya, buat semua. Jadi lebih menghargai, lebih santun. Lebih semangat, belajar tahfiznya makin giat," kata Lina. 

Read Entire Article
Politics | | | |