Tantang Kapal Induk Trump, Menlu Iran: Kami Bangsa yang Berpengalaman untuk Perang

3 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketegangan di Teluk Arab kembali meningkat seiring pernyataan tegas Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang menegaskan bahwa penguatan militer Amerika Serikat di kawasan tidak membuat Teheran gentar.

Pernyataan ini disampaikan menyusul kunjungan Steve Witkoff, utusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk Timur Tengah, ke kapal induk USS Abraham Lincoln yang beroperasi di perairan dekat Iran.

“Pengembangan kekuatan militer mereka di wilayah ini tidak membuat kami takut,” ujar Araghchi dalam sebuah forum di Teheran, Ahad, seraya menambahkan bahwa Iran tidak menginginkan perang.

“Kami bangsa yang diplomatis, tetapi juga bangsa yang mampu berperang. Itu tidak berarti kami mencari perang,” katanya, seperti dikutip Al Arabiya.

Kunjungan Witkoff, bersama Jared Kushner, ke kapal induk tersebut dimaksudkan untuk menegaskan pesan Washington tentang “perdamaian melalui kekuatan.” Dari atas kapal, Witkoff menyatakan dukungan penuh terhadap sikap Trump, sembari menyinggung keberhasilan pasukan AS menembak jatuh drone Iran. Namun, nada keras ini berjalan beriringan dengan jalur lain yang lebih lunak: diplomasi tidak langsung antara Washington dan Teheran.

Pembicaraan tidak langsung yang difasilitasi Kesultanan Oman di Muscat, Jumat lalu, menjadi pertemuan pertama sejak Amerika Serikat melancarkan serangan ke situs nuklir Iran pada Juni 2025, dalam konflik 12 hari yang dipicu oleh Israel. Menariknya, kedua pihak sama-sama menggambarkan pertemuan itu secara positif. Presiden Trump menyebutnya “sangat baik,” sementara Araghchi menilai suasananya “sangat positif.”

Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada Sabtu (7/2/2026), Araghchi menegaskan bahwa isu nuklir Iran hanya bisa diselesaikan melalui jalur negosiasi. Ia menyebut dialog dengan AS sebagai “titik awal yang baik,” meski mengakui jalan menuju pemulihan kepercayaan masih panjang. Iran, kata dia, siap mencapai “kesepakatan yang meyakinkan” terkait pengayaan uranium, namun menegaskan bahwa pengayaan nol berada di luar agenda perundingan.

“Pengayaan adalah hak yang dijamin dan harus terus berlanjut,” tegasnya. Bahkan, menurut Araghchi, pemboman pun gagal menghancurkan kemampuan Iran. Ia juga menegaskan bahwa program rudal Iran tidak akan menjadi bahan perundingan, karena merupakan bagian dari pertahanan nasional. Pembicaraan dengan AS, lanjutnya, bersifat tidak langsung dan terbatas secara eksklusif pada isu nuklir.

Di sisi keamanan kawasan, Araghchi menekankan bahwa Iran tidak menargetkan negara-negara tetangga. “Kami tidak menyerang negara tetangga; kami menargetkan pangkalan AS di kawasan. Perbedaannya sangat besar,” ujarnya. Ia mengakui Iran tidak memiliki kemampuan menyerang wilayah Amerika Serikat, tetapi siap membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan AS di kawasan jika diserang.

Read Entire Article
Politics | | | |