Value-Driven University: Ikhtiar Universitas Darunnajah Menjawab Tantangan Link and Match

5 hours ago 9

loading...

Wakil Rektor I Universitas Darunnajah Fajar Suryono, M.A. Foto/Dok Pribadi.

Wakil Rektor I Universitas Darunnajah Fajar Suryono, M.A

Perdebatan mengenai keselarasan antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan dunia industri (link and match) kerap mengerucut pada satu tuntutan praktis: kampus harus mampu bertransformasi menjadi pemasok tenaga kerja siap pakai.

Menyikapi arus pragmatisme ini, Universitas Darunnajah (UDN) justru mengambil sikap yang teguh dengan memposisikan institusinya sebagai Value-Driven University (Universitas Berbasis Nilai). Kampus ini tidak sekadar membekali mahasiswanya untuk siap bersaing di bursa kerja, tetapi memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar, yakni menyiapkan kader pemimpin masa depan yang mampu menebar maslahat seluas-luasnya di tengah masyarakat.

Penegasan identitas dan arah gerak universitas ini disampaikan secara gamblang dalam Pengarahan Mahasiswa Universitas Darunnajah untuk Persiapan Ujian Tengah Semester (UTS).

Fajar Suryono, M.A., selaku Wakil Rektor I, menjabarkan bahwa UDN berdiri di atas prinsip Value-Driven University yang secara fundamental berbeda dengan konsep pendidikan Market-Driven University.

Dalam tata kelola Value-Driven University, amanah diletakkan sebagai fondasi utama institusi, bukan semata-mata menjadikan profit sebagai tujuan utama seperti halnya entitas bisnis. Kampus juga membangun akuntabilitasnya langsung kepada Allah, bukan sekadar kepada investor.

Pendekatan ini dinilai krusial untuk memastikan keberlanjutan visi institusi dalam jangka panjang, menjaga stabilitas visi lintas generasi, dan mengamankan independensi akademik agar tidak rentan digoyahkan oleh tekanan maupun tren pasar sesaat.

Menanamkan Tiga DNA Lulusan Utama

Untuk melahirkan lulusan yang berdaya saing global namun tetap membumi pada nilai-nilai ajaran Islam, UDN secara serius menanamkan Sibghah atau identitas karakter pada mahasiswanya.

Konsep Sibghah ini tidak hanya diartikan secara harfiah sebagai "celupan", tetapi dimaknai secara mendalam sebagai totalitas nilai yang terinternalisasi ke dalam diri mahasiswa.

Proses internalisasi tersebut berfokus pada pembentukan tiga DNA Universitas Darunnajah.

Pertama, Tafaqquh Fiddin (Ulama yang Intelek), di mana lulusan dididik agar kelak mampu mengambil istinbat hukum Islam di tengah ragam persoalan umat modern.

Kedua, DNA Saudagar (Entrepreneur), yang bertujuan mencetak pribadi-pribadi kreatif yang pantang menyerah dan "punya 1000 cara" dalam menghadapi kebuntuan.

Ketiga, DNA Leader atau Mundzirul Qoum, yakni penekanan pada kaderisasi pemimpin.

Read Entire Article
Politics | | | |