Warna Loreng Pada Harimau

1 hour ago 3

Oleh : Azhar; Pendiri Inisiatif Konservasi Hutan Wakaf

REPUBLIKA.CO.ID,Di lantai hutan Sumatera, cahaya tidak jatuh langsung tapi pecah menjadi bias cahaya di celah daun, batang, dan tanah. Dalam ruang tersebut, cahaya terfragmentasi itulah harimau Sumatera (Panthera tigris sumaterae) menjalani kehdupan hariannya. Harimau dirancang oleh alam untuk beradaptasi dan mitigasi alami. Setiap helai bulu, setiap kontras warna pada tubuhnya, adalah hasil panjang antara evolusi antara gen, cahaya dan vegetasi (Mazák, 1981). Loreng-loreng hitam membentuk pewarnaan visual jingga gelap.

Secara ilmiah, warna jingga pada harimau Sumatera terjadi karena dominasi pigmen pheomelanin pada rambutnya, yaitu jenis melanin yang menghasilkan warna kuning hingga merah, sementara loreng hitam terbentuk dari konsentrasi eumelanin yang lebih tinggi pada area tertentu bulu (Slominski et al., 2004). Produksi dan distribusi kedua pigmen ini dikendalikan oleh mekanisme genetik sejak fase embrional, termasuk regulasi gen pengontrol jalur sintesis melanin yang menentukan apakah rambut akan berkembang dengan warna terang atau gelap (Kaelin et al., 2012).

Secara evolusioner, warna jingga dipertahankan karena memberikan keuntungan kamuflase: banyak mamalia mangsa seperti rusa dan babi hutan memiliki penglihatan dikromatik yang tidak mampu membedakan merah dan hijau secara jelas, sehingga warna jingga bagi mereka tampak menyerupai rona kusam kehijauan atau kecokelatan yang menyatu dengan vegetasi hutan (Jacobs, 2009).

Selain itu, mamalia secara biologis tidak memiliki pigmen alami untuk menghasilkan warna hijau atau biru, sehingga spektrum warna tubuhnya terbatas pada variasi hitam, cokelat, kuning dan merah, menjadikan jingga sebagai hasil optimal dalam batasan biokimia tersebut sekaligus sebagai adaptasi visual yang efektif di lingkungan hutan hujan Sumatera.

Bagi mata manusia, warna jingga tampak mencolok. Namun penglihatan manusia bukanlah standar ekologis di lantai hutan. Banyak mamalia mangsa seperti rusa dan kijang babi hutan memiliki penglihatan dikromatik yang tidak mampu membedakan spektrum merah dan hijau sebagaimana manusia (Jacobs, 2009). Dalam persepsi visual mereka, warna jingga tubuh harimau tidak tampil sebagai oranye terang, melainkan sebagai rona kusam yang menyatu dengan serasah daun, tanah basah, dan batang kayu lapuk.

Dengan kata lain, apa yang tampak “terang” bagi manusia justru menjadi “netral” dalam dunia visual mangsanya. Prinsip ini menjelaskan mengapa warna tubuh harimau tidak perlu menyerupai hijau daun untuk menjadi tersembunyi; ia hanya perlu selaras dengan bagaimana mangsanya melihat dunia (Allen et al., 2011).

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Politics | | | |