
Oleh Fitriyan Zamzami, Jurnalis Republika
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Semakin kesini, seturut menguatkan gesekan Iran dan negara-negara Teluk lainnya, perang narasinya di media sosial menjadi-jadi. Siapa yang Sunni dan siapa yang Syiah jadi standar baru kasih dukungan.
Bukan tugas saya tentunya menghakimi perbedaan teologis dan eskatologis tersebut. Yang saya bisa, karena dilatih oleh senior di kantor, adalah berupaya membaca faktanya.
Faktanya, bukan rahasia juga, perang ini dimulai AS dan Israel dengan membuka serangan ke Iran pada 28 Februari. Penting dicatat, serangan itu dilakukan saat Iran dan AS tengah dalam perundingan. Oman sebagai perantara bersaksi bahwa Iran sudah siap berkorban banyak dalam draf kesepakatan. Yang jarang diceritakan, Iran juga siap melepas uranium-uranium mereka yang diperkaya dengan syarat disimpan di negara-negara Muslim tetangga Iran.
Terungkap belakangan, Trump yang sedianya sudah menumpuk kekuatan militer di Teluk, menyerang mendadak karena dijanjikan Netanyahu bahwa serangan itu akan menumbangkan rezim Iran dalam hitungan hari. Kita tahu sekarang ternyata itu omong kosong Mossad saja.
Banyak pihak, bahkan Jerman sekutu kental AS dan Israel, menilai serangan AS-Israel itu ilegal dan menyalahi aturan internasional.
Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei bersama keluarganya termasuk anak-anak cucu meninggal dalam serangan itu. Sebanyak 48 pejabat tinggi Iran juga dihabisi. Di Minab, 167 anak-anak sekolah putri syahid di bom dua kali dengan rudal Tomahawk AS.
Serangan itu, secara logistik, tak mungkin bisa dilakukan AS tanpa keberadaan pangkalan mereka di negara-negara Teluk. Serangan ke sekolah putri itu, misalnya, harus diluncurkan tak jauh dari Iran dari kapal perang, kapal selam, atau pangkalan darat.
Penyelidikan awal mengungkapkan, Angkatan Laut AS yang menembakkan rudal tersebut. Di Teluk, pangkalan Angkatan Laut AS utamanya di Manama, Bahrain. Pangkalan ini berfungsi sebagai markas besar Armada Kelima AS dan Komando Pusat Angkatan Laut AS. Ini pangkalan AS pertama yang diserang Iran sebagai balasan atas serangan AS dan Israel.
Pangkalan lain pendukung pergerakan laut militer AS yang bisa mengerahkan kapal peluncur Tomahawk adalah Arifjan di Kuwait dan Al Udeid di Qatar. Di Arifjan, serangan balasan Iran menewaskan enam tentara AS.
Sementara pesawat-pesawat tempur AS yang merongrong langit Iran perlu waktu terbang yang lama sehingga harus mengisi bahan bakar di udara. Di mana tanker-tanker udara AS diparkir? Sebagian besar di Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi. Belakangan, militer AS mengakui serangan balasan Iran merusak lima pesawat pengisian bahan bakar KC-135 Stratotanker Angkatan Udara AS di pangkalan tersebut. Pihak AS mengatakan, setelah diperbaiki pesawat-pesawat itu akan beroperasi lagi membantu serangan ke Iran.
Pada awal-awal eskalasi, Iran hanya menyerang pangkalan-pangkalan tersebut. Menyusul kemudian hotel-hotel tempat mengungsi pasukan AS di Uni Emirat Arab dan gedung Kedutaan Besar AS di negara-negara tersebut.
Seiring berjalannya perang, Israel mulai menyerang fasilitasi migas dan listrik Iran. Pada 8 Maret, Israel menghantam empat fasilitas penyimpanan minyak dan pusat transfer produksi minyak di Teheran dan provinsi Alborz. Teheran diselimuti asap beracun sementara minyak dari depot Shahran bocor ke jalan-jalan. Ini yang kemudian memicu serangan balasan Iran ke fasilitas migas di Israel dan negara Teluk yang terkait AS.
Pada 18 Maret 2026, Israel menyerang infrastruktur minyak dan gas alam Iran di ladang South Pars dan kilang Asaluyeh. Iran membalas dengan menyerang kota pengolahan LNG di Ras Laffan, Qatar.
Serangan balasan itu terlihat acak di permukaan. Ternyata, yang terkena rudal Iran di lokasi itu adalah tepat dua kilang milik perusahaan migas AS ExxonMobil dan satu fasilitas GTL punya Shell (Inggris-Belanda).
Serangan Iran ke wilayah negara-negara Teluk ini juga menewaskan warga sipil.
Di UEA, misalnya, militer setempat mengeklaim telah menangkal 314 rudal balistik, 15 rudal jelajah, dan 1.672 drone. Delapan tewas terkena serpihan operasi menghadang serangan balasan Iran.
Di Kuwait, delapan warga sipil meninggal. Salah satunya, anak usia 11 tahun, meninggal terkena serpihan rudal yang dicegat. Lainnya tak dijelaskan bagaimana penyebab meninggalnya.
Sedangkan di Qatar, ada kematian akibat helikopter milik Angkatan Bersenjata Qatar jatuh ke laut karena kerusakan teknis. Kejadian yang menewaskan satu tentara dan dua teknisi turki serta empat tentara Qatar itu tak terkait serangan Iran.
Di Bahrain, seorang pekerja tewas ketika puing-puing dari rudal yang dicegat jatuh ke kapal asing yang sedang menjalani perawatan di Salman Industrial City. Sebuah rudal Patriot Amerika Serikat juga terlibat dalam ledakan yang melukai puluhan warga di Bahrain pada 9 Maret. Sebelumnya, AS mengklaim ledakan tersebut disebabkan oleh serangan pesawat tak berawak Iran.
Seorang wanita berusia 29 tahun tewas dan delapan orang juga terluka ketika sebuah bangunan tempat tinggal di ibu kota Bahrain, Manama, dihantam, rudal. Sementara dua orang tewas di Oman terkena drone yang ditembak jatuh di Sohar.
Sedangkan Arab Saudi mengatakan dua orang tewas dan 20 lainnya luka-luka termasuk 12 orang di pusat pemerintahan Al Kharj setelah sebuah proyektil jatuh di daerah pemukiman.
Dari insiden-insiden di negara Teluk itu, terlihat bahwa sebagian besar kematian bukan ditarget langsung oleh Iran, namun terkena serpihan rudal Iran yang dicegat negara-negara terkait.
Karena dicegat lebih dulu, kita tak tahu pasti kemana sebenarnya rudal-rudal dan drone itu sedianya diarahkan. Jangan-jangan, “hanya 17 persen” rudal dan drone Iran yang mencapai Israel karena pencegatan-pencegatan di negara-negara Teluk ini. Bahkan di Israel, dari 19 korban jiwa, kebanyakan juga terkena serpihan rudal.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

8 hours ago
8















































