Alasan di Balik Sepinya Pelaminan: Bukan Nggak Mau Tapi Belum 'Mampu'?

8 hours ago 8

Pasangan melangsungkan pernikahannya di KUA Tebet, Jakarta. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pernikahan terus menurun sejak 2013, dari lebih dari 2 juta pasangan pada 2018 menjadi hanya sekitar 1,5 juta pernikahan pada 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Angka pernikahan di Indonesia mengalami penurunan signifikan dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pernikahan terus menurun sejak 2013, dari lebih dari 2 juta pasangan pada 2018 menjadi hanya sekitar 1,5 juta pernikahan pada 2023.

Penurunan ini diperkirakan masih berlanjut hingga tahun mendatang. Pakar psikologi pendidikan dari UMY, Prof Halim Purnomo, mengatakan turunnya angka pernikahan di kalangan muda tidak terjadi tanpa sebab.

Menurutnya, anak muda saat ini cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan besar, termasuk mengakhiri masa lajang. Pertimbangan finansial, kemantapan karier, serta kesiapan mental menjadi variabel dominan dalam proses pengambilan keputusan tersebut.

"Mereka memahami bahwa pernikahan bukan perjalanan satu atau dua hari, melainkan perjalanan hidup. Karena itu memang diperlukan persiapan matang, bagaimana menyatukan dua pribadi dan dua keluarga yang berbeda agar dapat berjalan bersama serta meminimalkan risiko dalam rumah tangga," kata Prof Halim dalam keterangan tertulis dikutip pada Senin (2/3/2026).

Selain aspek ekonomi dan karier, faktor psikologis juga berpengaruh signifikan generasi muda tunda nikah. Halim menilai munculnya kekhawatiran terhadap komitmen dan kepercayaan antarpasangan menjadi salah satu penyebab yang kerap tidak disadari. Pengalaman masa lalu dalam keluarga, seperti perceraian orang tua, dapat membentuk sikap yang lebih hati-hati terhadap pernikahan.

"Ada yang merasa takut terhadap komitmen atau dalam istilah psikologi disebut gamofobia. Ada pula yang menyaksikan perceraian orang tuanya sehingga muncul kekhawatiran akan mengulang pengalaman yang sama. Ketika rasa tidak percaya itu muncul, seseorang cenderung menunda pernikahan karena ingin benar-benar yakin bahwa pilihannya tepat," kata dia.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |