Analis: IHSG Tertekan Saham Berbasis SDA Imbas Pencabutan Izin Usaha

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan kombinasi sentimen mancanegara dan dalam negeri menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (21/1/2026).

Dari dalam negeri, Wafi menyebut saham-saham berkapitalisasi besar berbasis sumber daya alam (SDA) tengah tertekan imbas pencabutan izin Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) oleh pemerintah terhadap 28 perusahaan di sektor tersebut.

“Kombinasi sentimen eksternal geopolitik dan domestik terkait tekanan di saham big caps berbasis SDA akibat isu pencabutan izin,” ujar Wafi saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.

Seiring dengan itu, ia menjelaskan pelaku pasar cenderung menghindari ketidakpastian dengan mengalihkan aset investasi ke instrumen emas dan mata uang dolar AS. Kondisi tersebut memicu capital outflow atau aliran modal asing keluar dari pasar saham Indonesia.

Terkait sentimen geopolitik, khususnya isu Greenland yang melibatkan Presiden AS Donald Trump dengan negara-negara NATO dan Eropa, Wafi menilai dampaknya lebih cenderung bersifat psikologis dan memengaruhi arus modal.

“Ketegangan global membuat investor menarik dana dari emerging market kembali ke AS, yang berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah,” ujarnya.

Seiring sentimen dalam negeri dan mancanegara tersebut, pihaknya memproyeksikan IHSG masih cenderung tertekan dan bergerak di kisaran level 9.000.

Namun demikian, menurut Wafi, secara fundamental IHSG masih solid, terutama ditopang oleh dominasi transaksi investor domestik. “Dalam jangka pendek berpotensi tertekan untuk menguji support psikologis 9.000. Namun secara fundamental IHSG masih resilien karena fundamental solid dan dominasi investor domestik dalam daily trading,” ujar Wafi.

Berdasarkan data perdagangan sesi II Bursa Efek Indonesia pada Rabu (21/1/2026) pukul 15.10 WIB, IHSG tercatat melemah 143,52 poin atau 1,57 persen ke posisi 8.991,18.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.493.813 transaksi, dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 52,25 miliar lembar saham senilai Rp 28,28 triliun. Sebanyak 154 saham menguat, 584 saham melemah, dan 63 saham stagnan.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, hampir seluruh sektor atau sepuluh sektor melemah. Pelemahan terdalam terjadi pada sektor industri yang turun 6,50 persen, diikuti sektor properti serta sektor transportasi dan logistik yang masing-masing turun 3,69 persen dan 2,87 persen.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |