Analis: Perang Lawan Iran Jadi Mimpi Buruk Industri Senjata Washington

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika rudal-rudal Iran menghantam Pangkalan Militer Diego Garcia, titik yang berjarak hampir lima ribu kilometer dari Teheran, sebuah kenyataan yang selama bertahun-tahun hanya berani diucapkan dalam bisikan akhirnya terpaksa diakui secara terbuka: Iran bukanlah lawan yang bisa dikalahkan dengan logika sederhana kekuatan udara yang superior. Dan perang yang oleh Donald Trump digambarkan "hampir selesai" itu justru baru saja menunjukkan wajahnya yang sesungguhnya.

Lima suara dari lima sudut yang berbeda, seorang jurnalis investigatif Amerika, seorang analis geopolitik Inggris, seorang komentator Turki, seorang kolumnis Fox News, dan seorang analis Rusia, membentuk satu gambaran yang utuh dan mengkhawatirkan tentang konflik yang kini telah melampaui batas-batas Timur Tengah dan mulai mengancam tatanan global secara keseluruhan.

Untuk memahami mengapa Amerika Serikat kini terjebak dalam perang yang hanya didukung oleh 21 persen warganya, Matt Wolfson di Al Mayadeen menelusuri sebuah kronologi yang dimulai bukan dari keputusan militer, melainkan dari keputusan personel yang tampaknya tak berbahaya.

November dan Desember 2024: Trump menunjuk Howard Lutnick sebagai Menteri Perdagangan dan Scott Bessent sebagai Menteri Keuangan, sekaligus mengabaikan Robert Lighthizer, arsitek utama kebijakan "America First" yang sesungguhnya. Lighthizer, yang percaya pada penggunaan tarif untuk melindungi produksi dalam negeri Amerika, tersingkir. Posisinya diisi oleh dua figur yang, menurut Wolfson, adalah "produk Wall Street dan jaringan Zionis Yahudi yang sejak tahun 1980-an telah membenarkan dan menerapkan 'perdagangan bebas'."

Wolfson mengutip Lighthizer sendiri yang, dalam nada yang mencerminkan kekhawatiran mendalam, mengatakan, "Saya tidak tahu, saya tidak tahu bagaimana para miliarder berpikir. Saya belum pernah menjadi salah satunya."

Intuisi Lighthizer terbukti tepat. Yang terjadi berikutnya adalah apa yang Wolfson sebut sebagai kooptasi sistematis. Trump, yang terpilih dengan platform mengakhiri perang asing dan membongkar "negara bayangan," secara bertahap mengelilingi dirinya dengan figur-figur yang memiliki agenda berbeda. Lutnick dan Bessent; Marco Rubio sebagai Menteri Luar Negeri; Stephen dan Katie Miller; Steve Witkoff sebagai utusan khusus Timur Tengah. Semuanya, menurut Wolfson, terhubung dalam jaringan yang sama.

Mekanismenya bukan paksaan, melainkan bujukan. "Zionis tidak mencapai kesuksesan politik mereka dengan kekerasan," tulis Wolfson. "Mereka melakukannya dengan memberikan bantuan keuangan yang besar, kemudian menawarkan insentif sumber daya dan investasi kepada para penggerak Kekaisaran." Trump, yang terobsesi dengan angka investasi asing dan potensi ekstraksi sumber daya, adalah "sasaran yang sempurna untuk kebijakan luar negeri yang menjanjikan keuntungan cepat."

Hasilnya sudah terlihat: seorang presiden yang berkampanye sebagai kandidat perdamaian kini memimpin perang yang, menurut Scott McConnell dari The American Conservative, merupakan "pengkhianatan terhadap prinsip dasar Trumpisme" dengan "skala penipuan yang sangat mencengangkan."

Selat yang Tertutup dan Fondasi Industri yang Retak

Sementara Wolfson membedah arsitektur politik di balik perang, Kit Klarenberg di Al Mayadeen menunjukkan konsekuensi material yang paling konkret dan paling sering diabaikan dalam perang ini: tertutupnya Selat Hormuz.

"Sejak perang kriminal Zionis-Amerika terhadap Iran meletus, Selat Hormuz tetap tertutup rapat," tulis Klarenberg. Upaya Amerika untuk membangun koalisi internasional guna membuka kembali selat itu selalu ditolak. Dan akibatnya bukan sekadar naiknya harga minyak.

Read Entire Article
Politics | | | |