Pengurus masjid menyajikan Bubur Peca untuk berbuka puasa di Masjid Shiratal Mustaqiem di Samarinda Seberang, Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (21/2/2026). Pengurus masjid membagikan sedikitnya 300 porsi Bubur Peca setiap harinya selama bulan Ramadhan kepada warga sebagai upaya melestarikan tradisi makanan khas Kampung Masjid Samarinda Seberang yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda tingkat nasional, dan diwariskan turun-temurun sekitar 100 tahun lalu.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam ajaran Islam, niat adalah inti dari setiap amal ibadah karena niat menentukan apakah suatu ibadah diterima oleh Allah atau tidak. Ini berlaku dalam setiap jenis ibadah, termasuk puasa di bulan Ramadhan.
Niat puasa Ramadhan bukan hanya sekadar perkataan atau formalitas, tetapi mencerminkan kesungguhan hati dan keikhlasan seorang Muslim dalam menjalankan perintah Allah. N iat yang tulus dan ikhlas memegang peranan penting dalam menjalankan puasa Ramadhan dengan baik.
Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat, KH Abdul Muiz Ali menjelaskan, ulama fikih Mazhab Maliki, Syafi'i dan Hambali berpendapat, niat puasa Ramadhan harus dilakukan pada malam hari (Tabyit) sebelum masuk waktu Subuh. Berdasarkan atsar sahabat, istri Nabi, Sayyidah Hafshoh berkata:
مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya.”
Niat Puasa Ramadhan Harian
نـَوَيْتُ صَوْمَ غـَدٍ عَـنْ ا َدَاءِ فـَرْضِ شـَهْرِ رَمـَضَانَ هـَذِهِ السَّـنـَةِ لِلـّهِ تـَعَالىَ
"Nawaitu shauma ghadin an adaai fardlu syahri ramadhaana hadzihis sanati lillaahi ta’aalaa".
Artinya: "Saya niat puasa besok untuk menunaikan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan tahun ini karena Allah SWT."
sumber : Pusat Data Republika

2 hours ago
3















































