Bappenas Dorong Generasi Muda Berkontribusi Langsung untuk Lingkungan Sekitar

4 hours ago 19

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian PPN/Bappenas menegaskan bahwa penyiapan pemimpin masa depan Indonesia tidak cukup mengandalkan pembelajaran di ruang kelas. Generasi muda perlu diberi ruang untuk terlibat langsung dalam persoalan pembangunan, dimulai dari lingkungan terdekat mereka. 

Urgensi tersebut berangkat dari data. Menurut World Bank (2020), Human Capital Index Indonesia berada di angka 0,54, yang menunjukkan bahwa produktivitas generasi mendatang baru mencapai sekitar 54 persen dari potensi yang dapat diraih dalam kondisi ideal pendidikan dan kesehatan. Menutup kesenjangan ini menuntut penguatan kualitas SDM dari berbagai lini, termasuk dengan membuka kesempatan bagi generasi muda untuk belajar, berkarya, dan mengambil bagian dalam menjawab persoalan sosial di sekitarnya.

Menurut Didik, selain kompetensi profesional, pemimpin masa depan perlu memiliki pemahaman terhadap persoalan masyarakat, kemampuan bekerja lintas sektor, serta orientasi untuk menciptakan dampak jangka panjang. Kapasitas semacam itu paling efektif dibentuk melalui pengalaman langsung, bukan semata teori.

"Kontribusi tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Justru kita bisa memulainya dari gerakan-gerakan lokal yang dampaknya sangat nyata, dari titik paling kecil di sekitar kita," ujar Direktur Agama, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga, Kementerian PPN/Bappenas, Didik Darmanto, di hadapan sepuluh Tanoto Fellow Cohort 2025 yang baru merampungkan satu tahun penugasan lapangan di berbagai daerah.

Pesan itu berkaca pada perjalanan 10 Tanoto Fellow Cohort 2025 yang selama satu tahun terlibat dalam berbagai proyek pendidikan di sejumlah daerah di Sumatra—termasuk Riau, Jawa, dan Kalimantan. Mereka bekerja bersama pemerintah daerah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan dalam penguatan literasi dan numerasi, pendidikan anak usia dini, serta pengembangan materi pembelajaran berbasis konteks lokal.

Melalui keterlibatan tersebut, para Fellow tidak hanya menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama program, tetapi juga belajar memahami kebutuhan masyarakat, membangun kolaborasi, dan menyesuaikan pendekatan dengan konteks setempat.

"Teman-teman Fellow bisa terjun langsung selama satu tahun sehingga memiliki modal sosial dari program ini, network, dan kemampuan untuk memahami aspek sosial budaya masyarakat. Saya berharap pengalaman tersebut dapat mereka implementasikan ketika kembali ke masyarakat, sehingga inisiatif yang dibangun benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan," lanjut Didik.

Membangun Pemimpin yang Membawa Dampak

Head of Learning Environment Tanoto Foundation, M. Ari Widowati, menekankan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama program akan memiliki nilai yang lebih besar ketika dapat diterapkan dan memberikan manfaat di luar program.

“Fellowship ini bukan hanya tentang apa yang kita dapatkan dari program, tetapi juga tentang apa yang bisa kita lakukan dengan apa yang sudah kita pelajari. Pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan yang diperoleh selama satu tahun akan menjadi berarti ketika semuanya digunakan untuk memberikan manfaat bagi orang lain," ujar Ari.

“Perjalanan sebagai Tanoto Fellow mungkin berakhir hari ini, tetapi proses belajarnya tidak berhenti. Saya berharap teman-teman terus membawa semangat untuk belajar, berkolaborasi, dan memberikan kontribusi di mana pun berada," kata Ari.

Kedua pesan tersebut disampaikan dalam Tanoto Foundation Fellowship Programme Cohort 2025 Graduation yang digelar di Jakarta, Rabu (26/8/2026), menandai berakhirnya masa penugasan lapangan sepuluh Fellow dan dimulainya fase berikutnya: membawa pembelajaran tersebut ke dalam profesi dan komunitas masing-masing.

Mempersiapkan Talenta Muda untuk Indonesia Emas 2045

Bagi Tanoto Foundation, pengembangan talenta muda merupakan bagian dari investasi jangka panjang dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia. Melalui Tanoto Foundation Fellowship Programme, generasi muda mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kepemimpinan melalui pengalaman langsung, memahami persoalan sosial dari dekat, serta belajar bekerja bersama berbagai pihak untuk menghasilkan perubahan yang relevan dan berkelanjutan.

Pendekatan tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia akan pemimpin masa depan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga peduli terhadap persoalan sosial, mampu melihat dampak jangka panjang, dan berkomitmen menciptakan perubahan yang berkelanjutan.

Kontribusi menuju Indonesia Emas 2045 tidak dimulai pada 2045, tetapi dibangun melalui talenta yang dipersiapkan sejak hari ini. Bagi 10 Tanoto Fellow Cohort 2025, satu tahun fellowship menjadi bagian dari perjalanan untuk membawa pembelajaran dan pengalaman tersebut ke dalam profesi, komunitas, dan bidang kontribusi mereka masing-masing.

Read Entire Article
Politics | | | |