Bos Pertamina Sebut RI Tingkatkan Impor LPG dari AS Jadi 70 Persen

3 hours ago 7

Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri meninjau kesiapan ketersediaan BBM di Terminal BBM Surabaya, Selasa (25/3/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Pertamina (Persero) berencana meningkatkan porsi impor LPG dari Amerika Serikat hingga mencapai sekitar 70 persen sebagai bagian dari implementasi kesepakatan dagang energi antara Indonesia dan AS. Kebijakan ini ditempuh untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan nasional.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menyampaikan peningkatan porsi tersebut dilakukan melalui skema pengadaan yang tetap mengedepankan prinsip keekonomian dan tata kelola yang transparan. Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi diversifikasi sumber pasokan energi.

“Selama ini LPG Pertamina mengimpor porsi yang cukup besar dari Amerika Serikat, kurang lebih sekitar 57 persen. Dengan adanya kesepakatan dagang ini, porsinya berpotensi meningkat hingga sekitar 70 persen,” kata Simon dalam konferensi pers di Washington DC, dikutip Jumat (20/2/2026) waktu Indonesia.

Menurut dia, impor masih diperlukan untuk menutup kesenjangan antara produksi dan konsumsi energi nasional. Pertamina bersama pemerintah dan para kontraktor migas terus berupaya meningkatkan produksi domestik guna menekan ketergantungan impor dalam jangka panjang.

Simon menjelaskan skema impor yang dijalankan tetap mengikuti mekanisme bisnis yang berlaku. Seluruh proses dilakukan melalui tender terbuka dan sistem bidding tanpa penunjukan langsung guna memastikan transparansi serta harga yang kompetitif.

“Teknis yang kami lakukan adalah business as usual. Proses ini akan melalui mekanisme tender dan bidding yang terbuka,” ujarnya.

Selain LPG, Pertamina juga mendorong peningkatan pasokan minyak mentah dari Amerika Serikat serta melakukan penjajakan pengadaan produk energi lainnya. Diversifikasi sumber pasokan dilakukan agar Indonesia memperoleh harga yang kompetitif sekaligus menjaga keandalan rantai pasok.

Kebijakan peningkatan impor dari Amerika Serikat tidak menambah total volume impor nasional. Pemerintah mengalihkan sebagian pembelian dari kawasan Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika guna menjaga keseimbangan neraca perdagangan kedua negara.

Di sisi lain, Pertamina menilai skema impor dalam kesepakatan ini menjadi jembatan menuju kemandirian energi. Perusahaan terus memperkuat kerja sama dengan mitra global untuk peningkatan produksi, transfer teknologi, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia di sektor hulu migas.

Implementasi teknis kesepakatan ditargetkan berjalan setelah proses finalisasi dalam waktu 90 hari. Pertamina memastikan seluruh tahapan pengadaan dilakukan sesuai prosedur dan prinsip kepatuhan serta memberikan manfaat optimal bagi ketahanan energi nasional dan masyarakat.

Read Entire Article
Politics | | | |