loading...
Hanya beda satu angka di odometer, dari ratusan jadi ribuan. Tapi angka itu mengubah cara saya menghitung sebuah perjalanan. Foto: Sindonews/Danang Arradian
JAKARTA - Hanya beda satu angka. Di odometer. Dari ratusan, jadi ribuan. Dulu, isi penuh tangki mobil lama saya, jaraknya cuma 400 sampai 500 kilometer. Sekarang, di BYD M6 DM, angkanya 1.300 kilometer sekali isi penuh.
Tapi entah mengapa dampaknya besar sekali. Merogoh dompet Rp650 ribuan untuk 400 kilometer--yang dulu terasa wajar--sekarang jadi kesal sekali rasanya.
Padahal dulu tidak. Mungkin karena sekarang ada pilihan. Pilihan yang lebih irit.
Kemarin saya buka pintu mobil dan melihat angka hampir 1.300 kilometer di layar. Saya sempat senyum sendiri.
Kepercayaan diri saya meningkat. Saya merasa bisa pergi jauh kapan saja. Tidak takut kehabisan bensin. Tidak ada range anxiety. Tidak ada charge anxiety.
Perasaan yang bebas.
Dan kebebasan itu ternyata punya nama: PHEV. Plug-in Hybrid Electric Vehicle.
Selama ini saya menganggap PHEV teknologi setengah-setengah. Ternyata saya salah. Justru di situ letak kekuatannya: ia tidak memaksa saya memilih.
Hari kerja, ia mobil listrik. Baterai 18,3 kWh. Jarak listrik murni 100 kilometer, siklus WLTP. Cukup untuk rute Bogor–Jakarta Pusat sejalan.
Akhir pekan, ketika keluarga minta ke luar kota, ia mobil bensin. Tangki 52 liter. Daya jelajah total 1.300 kilometer sekali isi penuh. Satu mobil. Dua kepribadian. Tanpa kompromi di antara keduanya.
Soal kepraktisan, ini bagian yang paling sering dilewatkan orang.
Malam hari, saya colok di rumah. Seperti mengisi ponsel. Colok malam, cabut pagi. Ongkosnya sekitar Rp31 ribu untuk 100 kilometer.
Rp310 per kilometer. Bandingkan dengan bensin: sekitar Rp1.070 per kilometer. Dari 120 km rute harian saya, 100 km jalan pakai listrik. Sisa 20 km baru mesin menyala.
Kalau sedang di jalan dan buru-buru, rumpun Cross punya DC fast charging 26 kW-dari 30 ke 80 persen dalam 30 menit.
Kalau tidak sempat ngecas sama sekali? Ya sudah. Masuk SPBU seperti biasa. Mesinnya minum oktan 92, Pertamax biasa. Kompatibel pula dengan campuran etanol 10 persen.
Ngecas itu pilihan. Bukan kewajiban.
Ada satu fitur tambahan yang jarang dibahas: V2L. Listrik dari mobil bisa dipakai untuk perangkat lain, saat camping, kerja lapangan, atau saat listrik rumah padam.
Lalu apa yang sebenarnya dibayar di harga Rp298 sampai Rp390 juta on the road Jakarta?

















































