loading...
Ini bukan mobil yang Anda kagumi di GIIAS. Ini mobil yang membuat Anda menyesal belum beli dari dulu. Foto: Sindonews/Danang Arradian
JAKARTA - Ada jenis mobil yang Anda kagumi di GIIAS. Ada jenis mobil yang Anda butuhkan setiap hari. Tidak selalu sama.
BYD M6 DM masuk kategori kedua. Saya sadari itu dari menit pertama duduk di dalamnya.
Kabinnya tidak akan membuat teman, keluarga, atau saudara Anda berdecak kagum. Dashboard-nya rapi, tapi tidak elegan. Layar head unitnya lumayan gede, 12,8 inci. MID sudah lebih baik dari versi BYD M6 EV: Full LCD Instrument 10,25 inci pada tipe tinggi.
Material kursinya jujur, tidak ada pretensi mewah yang kemudian mengecewakan. Itu trade-off yang saya tahu sejak awal. Dan saya tetap mau melanjutkan pembahasan ini.
Saya ingin memperkenalkan konsep yang saya sebut "mobil capek". Bukan mobil yang capek. Tapi mobil yang Anda pakai sampai capek, dalam artian baik.
Mobil yang pemakaiannya diatas 20.000 km setahun, 2x lebih besar dari normalnya 10.000 km per tahun.
Mobil yang antar anak ke sekolah setiap pagi. Yang temani istri belanja Sabtu siang. Yang bawa keluarga mudik ke Jawa. Yang sesekali keliling Jakarta seharian. Atau, ya untuk operasional kantor bahkan transportasi online.
Untuk mobil seperti itu, ada tiga pertanyaan yang benar-benar penting.
Pertama: cukupkah bahan bakarnya?
Kedua: aman tidak untuk jarak jauh?
Ketiga: berapa biayanya dalam setahun?
M6 DM menjawab ketiganya, dan jawabannya membuat saya berhenti mencari alternatif.
Soal bahan bakar:

Sistem DM (Dual Mode) menggabungkan Blade Battery LFP 18,3 kWh dengan tangki 52 liter. Jarak listrik murni 100 km siklus WLTP. Daya jelajah total 1.300 km sekali isi penuh. Konsumsi klaim 65 km per liter.
Hari-hari biasa: colok malam, cabut pagi, ongkos Rp31 ribu untuk 100 km pertama. Rp310 per kilometer. Mesin bensin baru menyala setelahnya.
Hari liburan panjang: tangki terisi, baterai terisi, berangkat. Tidak ada drama. Tidak ada riset charger di tengah jalan. Tidak ada kecemasan kehabisan daya.
Itu yang membedakan PHEV dari full EV untuk konteks Indonesia saat ini. Infrastruktur charger kita masih berkembang. Jarak antar kota bisa sangat panjang. PHEV memberi kebebasan tanpa mengorbankan efisiensi hari-hari biasa.
PHEV bukan jalan tengah yang setengah-setengah. Ini jalan tengah yang masuk akal.
Soal mesin:

1.500 cc, siklus Atkinson, empat silinder, naturally aspirated. Tenaga 75 kW (100 PS), torsi 125–126 Nm. Rasio kompresi 16:1. Efisiensi termal 46,06 persen — salah satu tertinggi di dunia untuk mesin produksi massal.

















































