Cirebon Sabtu Siang: Di Mana Kerja Menjadi Ibadah yang Terang

6 hours ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Stasiun Cirebon, Sabtu siang, 21 Maret 2026. Sementara jutaan orang di seantero negeri sedang duduk melingkar di meja makan, menikmati opor dan ketupat bersama orang-orang terkasih, di sini waktu bergerak dengan iramanya sendiri.

Koper-koper besar menggelinding di atas lantai marmer. Anak-anak kecil berlarian di antara kaki orang dewasa. Pengumuman kedatangan kereta bergantian mengisi udara. Dan di tengah semua itu, ada orang-orang yang memilih, atau terpaksa memilih, untuk tetap berdiri, tetap bekerja, tetap melayani.

Bagi mereka, Lebaran bukan tentang pulang. Lebaran adalah tentang bertahan.

Di sudut peron yang tak pernah benar-benar lengang, Ayus Warnoto berdiri dengan sikap yang sudah menjadi bagian dari dirinya. Pria 53 tahun itu menyapu arus penumpang dengan sorot mata yang tajam namun tenang, sepasang mata yang telah terlatih selama hampir tiga dasawarsa membaca siapa yang membutuhkan uluran tenaga.

Pandangannya terpaut sejenak pada seorang ibu yang menyeret koper besar dengan terbata-bata, lalu pada seorang bapak tua yang menggantungkan dua tas besar di kedua tangannya.

Begitu isyarat datang, lambaian kecil, panggilan singkat, atau sekadar tatapan yang meminta tolong, Ayus bergerak. Cepat, efisien, nyaris refleks. Ia mengangkat beban itu seolah-olah beban itu adalah tugasnya, karena memang begitulah adanya.

Profesi porter bukan kerja sambilan bagi Ayus. Ia adalah qishmah, takdir yang ia terima dan jalani dengan sepenuh hati. Di balik kesederhanaan pekerjaan ini, tersimpan tuntutan yang tidak ringan: ketahanan fisik yang harus dijaga setiap hari, dan kelapangan hati yang harus terus dipelihara bahkan ketika rezeki tak kunjung datang.

Pada hari-hari biasa, satu dua penumpang saja sudah menjadi ni'mat yang ia syukuri. Ada kalanya ia pulang dengan tangan kosong. "Kalau belum rezeki, ya memang nggak ada," ujarnya, lirih namun tanpa getir. Dalam kelimatnya itu tersimpan kearifan yang sederhana namun dalam, sebuah tawakkal yang tidak dibuat-buat.

Upah yang ia terima tak memiliki patokan yang pasti. Lazimnya, penumpang memberi sekitar Rp20 ribu untuk sekali angkut. Kecil, memang. Tapi Ayus menerimanya dengan ridha. Dua kali jasa dalam sehari, sekitar Rp40 ribu, sudah cukup membuatnya bersyukur, cukup untuk menyambung kebutuhan keluarga yang menunggunya di rumah.

Namun ada saatnya langit lebih murah hati. Dan bagi para porter di Stasiun Cirebon, waktu itu bernama musim mudik.

Empat hingga lima hari menjelang Lebaran, suasana stasiun berubah drastis. Penumpang berdatangan dengan bawaan yang berlimpah, koper jumbo, tas berlapis, kardus-kardus sarat oleh-oleh yang diikat dengan tali rafia. Inilah mauqit yang paling dinantikan: momentum arus mudik dan balik Lebaran, ketika tangan Ayus hampir tak sempat beristirahat dan penghasilannya bisa melonjak hingga Rp100 ribu dalam sehari.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |