CSIS: Dampak Konflik AS–Venezuela ke Indonesia Masih Terbatas

2 weeks ago 15

Seorang demonstran muda duduk di atas bendera nasional Venezuela berukuran besar saat aksi demonstrasi menentang aksi militer AS di Venezuela, di Rio de Janeiro, Brasil, 5 Januari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID,Jakarta — Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai dampak konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela terhadap Indonesia hingga saat ini masih terbatas, baik pada sektor pasar keuangan maupun komoditas. Meski demikian, masih terdapat risiko geopolitik yang berpotensi mengubah tatanan energi dan ekonomi global apabila konflik tersebut terus melebar hingga mengganggu pasokan minyak dunia.

Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS Deni Friawan mengatakan, risiko utama justru terletak pada kemungkinan eskalasi konflik yang melibatkan lebih banyak negara produsen energi.

“Tinggal permasalahannya apakah transisi pemerintahan di Venezuela berjalan mulus atau tidak. Yang dikhawatirkan, misalnya jika Venezuela berada di bawah kendali Presiden Trump, sementara Iran juga tengah bergejolak. Jika konflik-konflik ini meletup dan menghambat pasokan minyak dunia, barulah situasinya menjadi mengkhawatirkan. Namun sejauh ini dampaknya masih terbatas,” kata Deni di Jakarta, Rabu (7/1/2026).

Terbaru, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesiapan Venezuela untuk memasok 50 juta barel minyak kepada AS.

Situasi kian memanas seiring langkah Washington yang dinilai semakin agresif dalam mengamankan kepentingan energinya.

Deni menilai konflik AS–Venezuela tidak dapat dilepaskan dari rivalitas strategis dengan China. Venezuela memiliki cadangan minyak dan emas besar yang selama ini menjadi salah satu sumber energi penting bagi China.

“Amerika Serikat mencoba menguasai minyak tersebut agar suplai ke China berkurang. Ini merupakan upaya untuk menyeimbangkan posisi China,” ujar Deni.

Selain itu, terdapat kepentingan AS dalam mempertahankan dominasi dolar AS melalui mekanisme petrodolar. Upaya China, Rusia, dan sejumlah negara lain untuk memperluas transaksi minyak menggunakan mata uang non-dolar dinilai menjadi ancaman terhadap posisi dolar sebagai mata uang utama dunia.

“Untuk menghindari hal tersebut, AS mencaplok Venezuela agar dolar tetap menjadi mata uang utama sekaligus mengamankan pasokan minyak,” tambahnya.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
Politics | | | |