REPUBLIKA.CO.ID, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Pemprov Kalsel) sukses meningkatkan populasi itik Alabio hingga mencapai 3,3 juta ekor pada awal 2026. Pencapaian ini didorong oleh program prioritas Siti Hawa Lari (Sistem Integrasi Itik di Lahan Rawa dan Lahan Kering) yang fokus pada optimalisasi lahan lokal.
Itik Alabio merupakan plasma nutfah unggulan khas Kalimantan Selatan, khususnya dari Kabupaten Hulu Sungai Utara. Unggas ini dikenal sebagai tipe dwiguna yang produktif menghasilkan telur (mencapai 250 butir/tahun) sekaligus daging berkualitas tinggi. Memiliki ciri fisik khas berupa warna paruh dan kaki kuning jingga, itik ini mampu beradaptasi dengan sangat baik di ekosistem lahan basah atau rawa.
Kabid Peternakan Disbunnak Kalsel, Edi Santoso, menjelaskan bahwa program ini telah membentuk 700 klaster peternak di seluruh kabupaten/kota. "Tren populasi terus positif, dari 3,2 juta ekor pada 2024 menjadi 3,3 juta ekor di 2025. Kami memberikan bantuan stimulan berupa bibit, pakan, hingga sarana perkandangan bagi para peternak," ujar Edi di Banjarbaru, Selasa (3/2/2026).
Guna memperkuat capaian tersebut, Pemprov Kalsel kini menjajaki kerja sama dengan sektor swasta dan perkebunan sawit melalui skema investasi di luar APBD/APBN. Langkah ini diharapkan menjadikan sektor peternakan itik sebagai pilar utama ekonomi kerakyatan yang mampu memenuhi kebutuhan daging lokal hingga merambah pasar antar-daerah.
Produk Bernilai Tinggi
Itik Alabio menghasilkan dua produk utama yang memiliki nilai ekonomi tinggi, yaitu telur dan daging. Sebagai itik tipe dwiguna, Alabio sangat produktif dengan kemampuan bertelur mencapai 220 hingga 250 butir per ekor per tahun. Selain itu, itik yang sudah tidak produktif atau itik jantan dapat dimanfaatkan sebagai sumber daging berkualitas dengan bobot rata-rata 1,6 hingga 1,8 kg per ekor.
Produk turunan dari itik ini juga mencakup penjualan bibit atau Day Old Duck (DOD) yang menjadi komoditas penting bagi keberlangsungan industri peternakan. Selain produk konsumsi, bagian tubuh lain seperti bulu itik juga memiliki potensi untuk diolah menjadi bahan baku industri kerajinan atau pengisi bantal dan jaket, menambah nilai tambah bagi para peternak lokal di Kalimantan Selatan.
Dalam skala ekspor, pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus mendorong perluasan pasar komoditas unggas, termasuk produk olahan itik, ke mancanegara. Beberapa negara tujuan ekspor utama untuk produk unggas dan turunannya dari Indonesia meliputi Timor Leste, Singapura, Oman, hingga Uni Emirat Arab (UEA). Ekspansi ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani internasional dengan produk berkualitas tinggi yang sudah tersertifikasi.
sumber : Antara

3 hours ago
4














































