Legenda Putri Mandalika dalam Rajutan Film ‘Mandalika: Harmoni Logika dan Nurani'

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM— Legenda Putri Mandalika telah lama hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Sasak sebagai kisah pengorbanan demi mencegah peperangan.

Melalui film pendek “Mandalika: Harmoni Logika dan Nurani”, kisah tersebut dihadirkan kembali dengan nilai yang lebih kontekstual–bahwa sosok ini adalah simbol kebijaksanaan dan pengetahuan yang melahirkan tradisi Bau Nyale.

Film ini akan ditayangkan dalam acara Culture Night of Mandalika “Bau Nyale Short Movie Screening” pada 6 Februari 2026 di Pantai Kuta Mandalika sebagai bagian dari rangkaian Festival Bau Nyale.

Guru Besar Universitas Mataram, Prof Nuriadi, mengatakan karya sinematik memiliki power sebagai medium pengetahuan, karena di dalamnya merangkum gagasan dalam narasi visual, lebih mudah dipahami, lebih mudah dianalisis.

“Tentu film pendek 'Mandalika' ini menjadi dokumentasi budaya untuk ruang refleksi terkait tradisi autentik asal Suku Sasak," kata dia, kepada media, Selasa (3/2/2026).

Masyarakat Suku Sasak mengisahkan Putri Mandalika bak titik temu antara legenda dan nilai hidup. Mandalika digambarkan sebagai sosok pemimpin yang dihadapkan pada konflik besar: perebutan kekuasaan yang mengancam kedamaian rakyatnya.

Bau Nyale kemudian tumbuh sebagai tradisi yang dikaitkan dengan peristiwa tersebut, diwariskan lintas generasi dan menjadi salah satu ritual budaya paling penting di Lombok hingga kini.

Menurut budayawan Sasak, Lalu Agus Fathurrahman Putri Mandalika tidak dapat dibaca semata sebagai kisah pengorbanan, melainkan representasi kecerdasan kepemimpinan sosial masyarakat Sasak.

“Pemaknaan ini penting agar literasi budaya tidak bias dan tetap berpijak pada konteks serta pengetahuan leluhur,” kata dia.

Film “Mandalika: Harmoni Logika dan Nurani” tidak memposisikan Mandalika hanyalah figur pengorbanan tragis. Sebaliknya, ia dibaca sebagai perempuan cerdas yang memahami alam, waktu, dan tanggung jawab sosial.

Narasi ini membuka ruang tafsir bahwa Bau Nyale lahir dari nilai kebijaksanaan, persatuan, serta pengetahuan–lebih dari simbolik belaka. Kisah Mandalika pun menjadi refleksi tentang kepemimpinan yang berakar empati pada manusia dan alam.

Kadispar NTB, Ahmad Nur Aulia, menyampaikan Event 'Bau Nyale Short Movie Screening merupakan bagian dari strategi pariwisata berbasis edukasi budaya. Kami ingin mengenalkan Bau Nyale sebagai pengalaman budaya yang utuh, yang berbasis pengetahuan dan nilai fundamental, sehingga dapat dipelajari oleh wisatawan domestik hingga mancanegara.

Film menjadi pintu masuk guna menumbuhkan ketertarikan tersebut secara lebih dalam,” tutur dia.

Read Entire Article
Politics | | | |